SHEIKH YUSUF AL HAMDANI

Slide31

Ia merupakan salah satu seorang Yang Mengetahui Tuhan, sebuah Pilar bagi Sunnah Nabi dan wali yang unik. Beliau adalah imam (pemimpin agama), seorang `alim (ulama), dan` arif (pengetahuan rohani Allah). Beliau adalah salah seorang guru besar di zamannya, untuk meningkatkan maqam/tingkatan para pengikut mereka. Para ulama dan pecinta banyak untuk datang ke Eron dalam jumlah besar, khaniqah (penarikan) di kota Merv, Turkmenistan pada saat ini, untuk mendengarkan dia.

Syekh Abu Ya’qub Yusuf Al-Hamdani adalah termasuk salah seorang tokoh sufi yang sangat terkenal dan besar sekali pengaruhnya. Beliau pun dikenal pula sebagai seorang Wali Qutub dan Wali Ghauts, yakni pemimpin para wali pada zamannya.

Beliau adalah salah satu arif billah yang agung, penjaga sunnah Nabi Muhammad SAW. Syekh Ya’qub al-Hamadzani adalah salah satu Wali Allah yang menempati maqam ghauts al-adhim, dan merupakan salah satu figur utama dalam silsilah Tarekat Naqsyabandiyah.

Lahir di Buzanjird dekat Hamadan (Iran) di tahun 440 H. Beliau hijrah dari Hamadan ke Bagdad ketika berusia 18 tahun. Ia belajar di sekolah fiqh Shafi’i dibawah pengawasan guru di masanya yaitu, Shaykh Ibrahim ibn Ali ibn Yusuf al-Fairuzabadi. Di Bagdad ia bergabung dengan, Abu Ishaq ashaq ash-Shirazi ynag terkenal, yang memberikan perhatian besar baginya dibandingkan murid-murid yang lain meskipun ia yang termuda.

Ia sangat berprestasi sehingga menjadi referensi di masanya bagi semua murid di bidang tersebut. Ia juga dikenal sebagai pusat pengetahuan Islam tidak hanya di Baghdad tapi juga di Isfahan, Bukhara, Samarqand, Khwarazm, dan pelosok Asia Tengah.

Di masa-masa akhir hidupnya, ia berkhalwat dan meninggalkan duniawi. Ia menjadi seorang sufi dan konstan melakukan ibadah dan mujahadah (perjuangan spiritual). Ia bergaul dengan Shaykh Abdullah Ghuwayni dan Syekh Hasan Simnani. Beliau juga berguru kepada Syekh Abu Ali al-Farmadhi yang memberikannya rahasia.

Beliau meningkatkan penolakan–diri dan tafakur, hingga berkat ketekunannya beliau akhirnya mencapai kedudukan Ghauts, Sang Wali Penolong, sebuah kedudukan yang tinggi dalam hirarki kewalian. Beliau kemudian menetap di Merv dan sejak saat itu banyak karamah yang diperlihatkannya. Beliau meninggal di Khurasan pada 12 Rabiul Awwal 535 H dan di makamkan di Merv. Makamnya menjadi tujuan banyak peziarah Muslim.

Ajarannya

Selain mengajar ilmu fiqh dan ilmu eksoteris lainnya, Syekh Yusuf Hamadani sering mengemukakan beberapa ajaran ruhani atau esoteris yang langsung diperolehnya dari khazanah ilmu Tuhan. Namun dalam hal ini beliau lebih sering menggunakan metafora atau kiasan untuk menjelaskan rahasia-rahasia yang pelik, yang hakikatnya hanya bisa diketahui oleh para Wali Allah. Menurutnya, sebagian dari Wali Allah mendengar langsung firman-Nya melalui kesaksian transenden, sebagian Wali Allah lainnya mendengar melalui wahdaniyya, sebagian lagi melalui Kekuasaan-Nya, dan sebagian lagi melalui Rahmat-Nya. Melalui keterbukaan auditif inilah Awliya Allah mendapat pesan Tuhan, mendapat ilmu ladunni dan kabar-kabar baik dari hadirat Ilahi. Mereka memahami makna terdalam pesan-pesan Ilahiah. Sebagian mereka tenggelam dalam keabadian (baqa) kerahasiaan (sirr). Allah menjadikan saksi atas mukasyafah hamba-hamba-Nya yang terpilih, Awliya Allah, dan Allah menghiasi mereka dengan amal salih dan memberi karunia sifat-sifat-Nya kepada mereka.

Karomahnya

Ia mencerminkan Atribut Ilahiah (al-Qahhar) bagi yang menolak penyebaran spiritual. Berikut ini adalah kedua keajaibannya dalam hal tersebut:

Syekh Ya’qub memiliki banyak karamah, dan yang terkenal adalah karamah yang bersumber dari asma Allah Al-Qahhar. Dalam riwayat dikisahkan bahwa suatu ketika datang dua ulama fiqh yang mengkritik Syekh Yusuf Hamadani dengan kasar: “Diamlah kamu, karena engkau melakukan bid’ah.” Syekh Yusuf menjawab, “Jangan bicara perkara yang tak engkau pahami. Lebih kalian mati ketimbang hidup.” Begitu beliau selesai mengucapkan kalimat ini, dua ulama zahir itu jatuh meninggal dunia.

Syekh Yusuf Hamadani juga terkenal bisa berada di beberapa tempat sekaligus, dan beliau bisa datang ke tempat manapun yang beliau kehendaki dalam waktu singkat. Beliau bisa membaca pikiran dan hati orang lain. Beliau bisa memprediksi nasib orang dengan tepat. Menurut riwayat, Syekh Yusuf Hamadani memprediksikan ketinggian kedudukan Syekh ABDUL QADIR AL-JAILANI. Beliau pula yang meramalkan bahwa kelak Syekh Abdul Qadir al-Jailani akan mengucapkan kalimat yang amat terkenal, “Kakiku berada di atas bahu semua Awliya Allah.”

Ibn Hajar al-Haythami, didalam bukunya, Al-fatawa al-Hadithiyya, “Abu Sa’id Abdulllah ibn Abi ‘Asran, Imam sekolah Shafi’I, berkata, ‘Ketika aku mencari pengetahuan surgawi, aku menemani kawan ku, Ibn as-Saqa, siswa di sekolah Nizamiya, kami seringkali berkunjung ke orang alim. Kami dengar bahwa di Baghdad, ada seseorang bernama Yusuf al-Hamadani yang dikenal sebagai Wali Ghauts, dan ia bisa hadir dan menghilang kapanpun ia suka. Sehingga aku memutuskan untuk mengunjunginya bersama Ibn as-Saqa dan Shaykh Abdul Qadir al-Jilani, yang saat itu masih muda.

Sebelum mereka tiba ditempat tujuan, temannya yang bernama Ibnu Saqa’ berkata,”Aku akan mengajukan pertanyaan yang tidak akan diketahui jawabannya.”

Sementara satu temannya lagi yang bernama Abdullah bin Abi Asrun berkata,”Aku akan mengajukan pertannyaan yang akan kulihat bagaimanakah jawabannya.”

Adapun Syekh Abdul Qadir hanya berkata,”Aku berlindung kepada Allah dari pengajukan pertanyaan kepada beliau. Yang aku harapkan adalah berkat doa restu beliau.”

Sewaktu mereka tiba dirumah yang dituju, Syekh Abu Ya’qub tidak ada. Namun beberapa saat kemudian, tahu-tahu beliau sudah ada dihadapan mereka. Syekh Abu Yaqub memandang Ibnu Saqa’ dengan tajam seraya berkata,”Hai Ibnu Saqa’ apakah engkau akan menanyakan sesuatu yang tidak akan kuketahui jawabannya? Sungguh celaka engkau! Sungguh kulihat dimulutmu tersembul tanda kekafiran.”

Setelah itu beliau menyebut pertanyaan yang akan diajukan Ibnu Saqa’ dan sekaligus menjawabnya. Padahal Ibnu Saqa’ belum sempat berkata sepatahpun.

Kemudian Syekh berkata kepada Abdullah, “Hai Abdullah, apakah engkau akan menanyakan persoalan untuk kamu lihat jawabannya? Ketahuilah, kamu kelak akan diuji dengan banyaknya kekayaan yang datang kepadamu, akibat sikapmu yang tidak sopan kepadaku.” Seperti tadi, beliau menyebutkan pertanyaan yang ada dihati tamunya sekaligus menjawabnya.

Selanjutnya beliau menoleh kepada Syekh Abdul Qadir yamg waktu itu masih muda, dan menyuruh agar duduk didekatnya. Syekh Abu Ya’qub lalu berkata, “Hai Abdul Qadir, Allah dan RasulNya sangat senang dengan kesopananmu. aku seolah-olah melihat, kelak dikota Baghdad, engkau akan duduk memberikan pelajaran agama dihadapan para santri yang berdatangan dari segala penjuru. Akupun seolah-olah melihat, setiap wali yang ada pada masamu, semuanya tunduk melihat keagunganmu. Ketahuilah sebenarnya kedua telapak kakiku ini berada diatas tengkuk setiap wali Allah.”

Setelah berkata demikian, tiba-tiba sang Wali al-Ghauts lenyap dari pandangan mata para tamunya, tanpa diketahui kemana perginya.

Mereka bertiga kemudian keluar dari rumah al-Ghauts.

Ibn hajar al-Haythami melanjutkan, “’Abdul Qadir telah diangkat dan semua yang dikatakan Syaikh Yusuf al-Hamadani tentang dirinya terjadi. Ada suatu saat ketika ia berkata, ‘Kakiku berada di leher para awliya’. Ia juga menjadi referensi dan mercu suar yang memandu semua orang kepada tujuannya.”

“Ibn as-Saqa berbeda dalam takdirnya. Ia jenius dalam pengetahuan ilmu Islam dan lebih unggul dibandingkan murid-murid lainnya. Seringkali ia mengungguli perdebatan yang terjadi antar murid sehingga khalif memintanya untuk duduk sebagai anggota peradilannya. Suatu haru, khalifnya mengutusnya menghadap Raja Byzantium, yang telah mengumpulkan semua pendeta dan akademisi Kristiani untuk berdebat dengannya. Ibn as-Saqa mengungguli mereka semua dalam perdebatan dan tidak berdaya memberikan jawaban. Ia memberikan jawaban yang membuat mereka seperti muridnya.

“Kecerdasannya membuat Raja Byzantium kagum sehingga mengundangnya ke perkumpulan keluarga. Disitulah Ibn as-Saqa’s kasmaran dengan anak perempuan Raja, jatuh cinta dan melamarnya. Anak perempuan sang raja menolak kecuali ia pindah agama. Ia bersedia meninggalkan islam tapi setelah menikah jatuh sakit hingga dibuang keluar istana. Ia menjadi pengemis ynag meminta maknan tapi tak ada yang peduli. Kegelapan datang padanya.

“Suatu hari seseorang yang mengenalnya bertanya, ‘Apa yang terjadi denganmu?’ Ia menjawab, ‘Ada godaan yang tak bisa kuhindari.’ Orang itu kembali betanya, ‘Apa kau tidak ingat apapun tentang Qur’an?’ ia menjawab, ‘Aku hanya ingat ‘rubbama yawaddu-I-ladheena kafaru law kanu muslimeen (‘lagi dan lagi siapapun yang tidak beriman akan menyesal mereka bukan muslims’ [12:2]).

“’Tubuhnya bergetar seperti akan menarik nafas terakhir. Aku menghadapkannya ke arah Kabah (Barat), tetapi ia tetap menghadap ke timur. Ku hadapkan lagi kearah Kabah dan ia memutar dirinya lagi ke arah Timur. Kemudian, sementara ruhnya mulai keluar, ia berkata, ‘O Allah ini akibat dari ketidakhormatanku kepada GhawthsMu, Yusuf al-Hamadani.’”

Imam Haythami melanjutkan: “Ibn ‘Asran berkata, ‘Aku pergi ke Damascus bertemu Raja Nuridin ash-Shaheed, ia mengangkatku untuk memimpin department urusan agama dan aku menerimanya. Akibatnya kehidupan duniawi datang dari semua sisi: provisi, hidangan, ketenangan, uang, posisi seumur hidup. Itulah yang telah diprediksikan untukku oleh Ghauts Yusuf al-Hamadani.’”

Dari Kata-Kata ajarannya

Aphorisme (keburukan yang baik atau kebaikan yang buruk) menggambarkan tingginya maqam Yusuf al-Humadani’s (q) diantara para wali, ia berkata:

“Pembukaan Pendengaran Spiritual di kalangan teman-teman Allah bagaimana suatu Pesan dari Realitas, suatu Bab di Buku Allah, dan suatu berkah pengetahuan yang tidak terlihat. Hal itu juga awal dari suatu pembukaan hati dan pengungkapan tabir-berita baik dari Maqam Surgawi! Terbitnya pemahaman akan arti Ilahiah. Pendengaran ini merupakan keabadian (baqa) dari Rahasia (sirr). Allah membuat dirinya Saksi bagi penglihatan para Hamba PilihanNya, dan menganugerahkan mereka dengan keberkahan akhlak dan AtributNya.

“Dari setiap waliNya, Ia membuat kelompok Persaksian KeagunganNya (shuhada at-tanzih); kelompok KeesaanNya (wahdaniyya); kelompok RahmatNya (rahma), dan kelompok kekuatanNya (qudra).

“Agar kalian ketahui, Wahai Manusia, bahwa dari Cahaya ManifestasiNya, Allah telah menciptakan 70.000 malaikat yang bertugas pada berbagai maqam diantara Takhta (‘arsh) dan KursiNya. Di Kehadirat Allah (uns), pakaian mereka berwarna hijau wol, wajah mereka bagaikan bulan purnama, mereka berada di KehadiratNya dengan rasa takut, tak sadar, mabuk cintanya, berlaridari Takhta ke Kursi dan sebaliknya, karena perasaan dan ampunan yang membara dalam hati mereka. Mereka adalah para Sufi Surga dan Israfil (malaikat yang akan meniup Terompet di hari Pengadilan) menjadi pimpinan dan pemandu mereka, Jibril menjadi presiden dan pembicara mereka, dan al-Haqq (Allah) adalah Raja mereka Keberkahan Allah bersama mereka.”

Demikianlah Yusuf al-Hamadani qs, bayangan Tuhan di Bumi, sering menggambarkan realitas dan keagungan maqam surgawi dari para Sufi. Semoga Allah memberkati rohnya dan mensucikannya.

Dalam kitab Qalaidul Jawahir disebutkan, bahwa Syekh Abu Ya’qub wafat pada tahun 535 H. Beliau wafat di Khorasan, yang terletak antara Heart dan Bakshur, pada tanggal 12 Rabi’ul-Awwal, 535 H., dan di makamkan di Merv. Di dekat makamnya di bangun sebuah masjid besar dan sekolah pesantren besar.

Beliau menyimpan tongkat dan surban dari Sayidina Salman al-Farisi.ra

Ia meneruskan rahasianya kepada Abul ‘Abbas as yang kemudian meneruskannya kepada ‘Abdul Khaliq al-Ghujdawani, yang menerima langsung dari Yusuf al-Hamadani.

Deputies/ Badal dari Syaikh YUsusf al-Hamadani diantaranya adalah:

Khwājā Abdullāh Barqī (d. 555 AH)
Khwājā Hasan ibn Husain al-Andāqī (462-552 AH)
Khwājā Ahmad al-Yasavī (d. 562 AH), founder of the Yasaviyyah Sufi Order
Khwājā Abd al-Khāliq al-Ghujdawānī, founder of the Naqshbandiyyah Sufi method
Kitab-kitab mengenai Beliau;
Rashahāt Ain al-Hayāt
Nafahāt al-Uns, by Mawlānā Jāmī
Manāzil al-Sā’irīn, attributed to Khwājā Yūsuf al-Hamadānī
Manāzil al-Sālikīn, attributed to Khwājā Yūsuf al-Hamadānī
Maqāmāt-i Yūsuf-i Hamadānī, attributed to Khwājā Abd al-Khāliq al-Ghujdawānī

Tinggalkan Jawapan

Masukkan butiran anda dibawah atau klik ikon untuk log masuk akaun:

WordPress.com Logo

Anda sedang menulis komen melalui akaun WordPress.com anda. Log Out /  Tukar )

Twitter picture

Anda sedang menulis komen melalui akaun Twitter anda. Log Out /  Tukar )

Facebook photo

Anda sedang menulis komen melalui akaun Facebook anda. Log Out /  Tukar )

Connecting to %s

Create your website with WordPress.com
Get started
%d bloggers like this: