SHEIKH ABU YAZID AL BUSTAMI

Slide34

Abu Yazid Thaifur bin ’Isa bin Surusyan al-Busthami (q) lahir di Bustham yang terletak di bagian Timur Laut Persia. Kakeknya adalah seorang penganut Zoroaster. Di Bustham ini pula Abu Yazid meninggal dunia tahun 261 H/874 M atau 264 H/877 M, sedang makamnya masih ada hingga saat ini. Di samping keharuman namanya sebagai pendiri perguruan sufisme, beliau dikenal karena keberaniannya menyatakan peleburan yang sempurna seorang mistikus ke dalam Illahiyah. Beliau adalah salah seorang Sulthonul Awliya, yang merupakan salah satu Syekh yang ada di silsilah dalam thoriqoh Naqshbandiyah, Thoriqoh Suhrowardiyah dan beberapa thoriqoh lain. Tetapi beliau sendiri menyebutkan di dalam kitab karangan tokoh di negeri Irbil sbb:” …bahwa mulai Abu Bakar Shiddiq sampai ke aku adalah golongan Shiddiqiah.”

Beliau menghimbau para murid agar mengikhlaskan masalah mereka di tangan Allah dan mendorong mereka menerima dengan tulus ajaran tauhid (keesaan Tuhan). Ajaran ini terdiri dari lima hal pokok:
menjaga kewajiban menurut Qur’an dan sunnah,
selalu berkata benar,
menjaga hati dari kebencian,
menghindari makanan yang dilarang dan
menghindari inovasi (bid’a).
Secara khusus penjelasan-penjelasannya mengenai perjalanannya ke surga (yang mirip dengan Mi”raj Nabi Muhammad), sangat sering dipelajari oleh para penulis dan sangat mempengaruhi imajinasi manusia-manusia sesudahnya.

Abu Yazid al-Busthami : Lahir dan Masa Remajanya

Kakek Abu Yazid al-Busthami adalah seorang penganut agama Zoroaster. Ayahnya adalah salah seorang di antara orang-orang terkemuka Bustham. Kehidupan Abu Yazid yang luar biasa bermula sejak ia berada di dalam kandungan ibunya.
“Setiap kali aku menyuap makanan yang kuragukan kehalalannya”, ibunya sering berkata kepada Abu Yazid, “Engkau yang masih berada di dalam rahimku memberontak dan tidak mau berhenti sebelum makanan itu kumuntahkan kembali”.
Pernyataan si ibu dibenarkan oleh Abu Yazid sendiri.

Kepada Abu Yazid pernah ditanyakan, “Apakah yang terbaik bagi seorang manusia di atas jalan (thariqah) ini”.
“Kebahagiaan yang merupakan bakat sejak lahir”, jawab Abu Yazid.
”Jika kebahagiaan seperti itu tidak ada?”
“Sebuah tubuh yang sehat dan kuat”.
“Jika tidak memilki tubuh yang sehat dan kuat?”
“Pendengaran yang tajam”.
“Jika tidak memiliki pendengaran yang tajam?”
“Hati yang mengetahui”.
“Jika tidak memiliki hati yang mengetahui?”
“Mata yang melihat”.
“Jika tidak memiliki mata yang melihat?”
“Kematian yang segera”.

Setelah sampai waktunya, si ibu mengirimkan Abu Yazid ke sekolah. Abu Yazid mempelajari al-Qur’an. Pada suatu hari gurunya menerangkan arti satu ayat dari surah Lukman yang berbunyi: “Berterimakasihlah kepada-Ku dan kepada kedua orangtuamu”. Ayat ini sangat menggentarkan hati Abu Yazid. Abu Yazid meletakkan batu-tulisnya dan berkata kepada gurunya: “Izinkanlah aku pulang, ada sesuatu yang hendak kukatakan kepada ibuku”.
Si guru memberi izin, Abu Yazid lalu pulang ke rumahnya. Ibunya menyambutnya dengan kata-kata:
”Thaifur, mengapa engkau sudah pulang? Apakah engkau mendapat hadiah atau adakah suatu kejadian yang istimewa?”
“Tidak”, jawab Abu Yazid. “Pelajaranku sampai pada ayat di mana Allah memerintahkan agar aku berbakti kepada-Nya dan kepada ibu. Tetapi aku tak dapat mengurus dua buah rumah dalam waktu yang bersamaan. Ayat ini sangat menyusahkan hatiku. Mintalah diriku ini kepada Allah sehingga aku menjadi milikmu seorang atau serahkanlah aku kepada Allah semata sehingga aku dapat hidup untuk Dia semata-mata”.
”Anakku”, jawab ibunya. ”Aku serahkan engkau kepada Allah dan kubebaskan engkau dari semua kewajibanmu terhadapku. Pergilah engkau dan jadilah seorang hamba Allah”.

Di kemudian hari Abu Yazid berkata, “Kewajiban yang semula kukira sebagai kewajiban yang paling sepele di antara yang lain-lainnya, ternyata merupakan kewajiban yang paling utama. Yaitu kewajiban untuk berbakti kepada ibuku. Di dalam berbakti kepada ibuku itulah kuperoleh segala sesuatu yang kucari, yakni segala sesuatu yang hanya bisa dipahami lewat tindakan disiplin diri dan pengabdian kepada Allah. Kejadiannya adalah sebagai berikut:

Pada suatu malam, ibu meminta air kepadaku. Maka aku pun pergi mengambilnya, ternyata di dalam tempayan kami tak ada air. Kulihat dalam kendi, tetapi kendi itu pun kosong. Oleh karena itu pergilah aku ke sungai lalu mengisi kendi tersebut dengan air. Ketika aku pulang, ternyata ibuku sudah tertidur”.
“Malam itu udara terasa dingin. Kendi itu tetap dalam rangkulanku. Ketika ibu terjaga, ia meminum air yang kubawa itu kemudian
memberkati diriku. Kemudian terlihatlah olehku betapa kendi itu telah membuat tanganku kaku.
“Mengapa engkau tetap memegang kendi itu?’, ibu bertanya.
’Aku takut ibu terjaga sedang aku sendiri terlena’, jawabku.

Kemudian ibu berkata kepadaku: ’Biarkan saja pintu itu setengah terbuka’ “.
“Sepanjang malam aku berjaga-jaga agar pintu itu tetap dalam keadaan setengah terbuka dan agar aku tidak melalaikan perintah ibuku. Hingga akhirnya fajar terlihat lewat pintu, begitulah yang sering kulakukan berkali-kali”.

Setelah sang ibu memasrahkan anaknya kepada Allah, Abu Yazid meninggalkan Bustham, merantau dari satu negeri ke negeri lain selama tiga puluh tahun, dan melakukan disiplin diri dengan terus-menerus berpuasa di siang hari dan bertirakat sepanjang malam. Ia belajar di bawah bimbingan seratus tiga belas guru spiritual dan telah memperoleh manfaat dari setiap pelajaran yang mereka berikan.
Di antara guru-gurunya itu ada seorang yang bernama Shadiq ra.. Ketika Abu Yazid sedang duduk di hadapannya, tiba-tiba Shadiq berkata
kepadanya,
“Abu Yazid, ambilkan buku yang di jendela itu”.
“Jendela? Jendela mana?”, tanya Abu Yazid.
“Telah sekian lama engkau belajar di sini dan tidak pernah melihat jendela itu?”
“Tidak”, jawab Abu Yazid, “Apakah perduliku dengan jendela.
Ketika menghadapmu, mataku tertutup terhadap hal-hal lain. Aku tidak datang ke sini untuk melihat segala sesuatu yang ada di sini”.
“Jika demikian”, kata si guru, “Kembalilah ke Bustham. Pelajaranmu telah selesai”.

ooo

Abu Yazid mendengar bahwa di suatu tempat tertentu ada seorang guru besar. Dari jauh Abu Yazid datang untuk menemuinya.
Ketika sudah dekat, Abu Yazid menyaksikan betapa guru yang termasyhur itu meludah ke arah kota Mekkah, karena itu segera ia memutar langkahnya.
“Jika ia memang telah memperoleh semua kemajuan itu dari jalan Allah”, Abu Yazid berkata mengenai guru tadi. “Niscaya ia tidak akan melanggar hukum seperti yang telah dilakukannya”.
Diriwayatkan bahwa rumah Abu Yazid hanya berjarak empat puluh langkah dari sebuah masjid, ia tidak pernah meludah ke arah jalan dan menghormati masjid tersebut.

ooo

Perjalanan Abu Yazid menuju Ka’bah memakan waktu duabelas tahun penuh. Hal ini karena setiap kali ia bersua dengan seorang pengkhotbah yang memberikan pengajaran di dalam perjalanan itu, Abu Yazid segera membentangkan sajadahnya dan melakukan shalat sunnat dua raka’at. Mengenai hal ini Abu Yazid mengatakan:
“Ka’bah bukanlah seperti serambi istana raja, tetapi suatu tempat yang dapat dikunjungi orang setiap saat”.
Akhirnya sampailah ia ke Ka’bah tetapi ia tak pergi ke Madinah pada tahun itu juga.
“Tidaklah pantas perkunjungan ke Madinah hanya sebagai pelengkap saja”; Abu Yazid menjelaskan. “Saya akan mengenakan pakaian haji yang berbeda untuk mengunjungi Madinah”
Tahun berikutnya sekali lagi ia menunaikan ibadah haji. Ia mengenakan pakaian yang berbeda untuk setiap tahap perjalanannya sejak mulai menempuh padang pasir. Di sebuah kota dalam perjalanan tersebut, suatu rombongan besar telah menjadi muridnya dan ketika ia meninggalkan tanah suci, banyak orang yang mengikutinya.
“Siapakah orang-orang ini?”, ia bertanya sambil melihat ke belakang.
“Mereka ingin berjalan bersamamu”, terdengar sebuah jawaban. `
“Ya Allah!”, Abu Yazid bermohon, “Janganlah Engkau tutup penglihatan hamba-hamba-Mu karenaku”.
Untuk menghilangkan kecintaan mereka kepada dirinya dan agar dirinya tidak menjadi penghalang bagi mereka, maka setelah selesai melakukan shalat Shubuh, Abu Yazid berseru kepada mereka: “Ana Alloh ,Laa ilaha illa ana, Fa’budni”
“Sesungguhnya Aku adalah Tuhan, tiada Tuhan selain Aku dan karena itu sembahlah Aku”.
“Abu Yazid sudah gila!”,seru mereka kemudian meninggalkannya.

Abu Yazid meneruskan perjalanannya. Di tengah perjalanan ia menemukan sebuah tengkorak manusia yang bertuliskan: Tuli, bisu, buta ….. mereka tidak memahami. Sambil menangis Abu Yazid memungut tengkorak itu lalu menciuminya. “Tampaknya ini adalah kepala seorang sufi”, gumamnya, “Yang menjadi lebur di dalam Allah ….. ia tidak lagi mempunyai telinga untuk mendengar suara abadi, tidak lagi mempunyai mata untuk memandang keindahan abadi, tidak lagi mempunyai lidah untuk memuji kebesaran Allah, dan tak lagi mempunyai akal walau—pun untuk merenungi secuil pengetahuan Allah yang sejati. Tulisan ini adalah mengenai dirinya’”.
Suatu ketika Abu Yazid melakukan perjalanan. Ia membawa seekor unta sebagai tunggangan dan pemikul perbekalannya.
“Binatang yang malang, betapa berat beban yang engkau tanggung. Sungguh kejam!”, seseorang berseru.
Setelah mendengar seruan ini berulang kali, akhirnya Abu Yazid menjawab,
“Wahai anak muda, sebenarnya bukan unta ini yang memikul beban”.
Kemudian si pemuda meneliti apakah beban itu benar-benar berada di atas punggung unta tersebut, barulah ia percaya setelah melihat beban itu mengambang satu jengkal di atas punggung unta dan binatang itu sedikit pun tidak memikul beban tersebut.
“Maha Besar Allah, benar-benar menakjubkan!”, seru si pemuda.
“Jika kusembunyikan kenyataan-kenyataan yang sebenarnya mengenai diriku, engkau akan melontarkan celaan kepadaku”, kata Abu Yazid kepadanya.
“Tetapi jika kujelaskan kenyataan-kenyataan itu kepadamu, engkau tidak dapat memahaminya. Bagaimana seharusnya sikapku kepadamu?!”

ooo

Setelah Abu Yazid mengunjungi kota Madinah, datang sebuah perintah yang menyuruhnya pulang untuk merawat ibunya. Ditemani
serombongan orang, ia pun berangkat menuju Bustham. Berita kedatangan Abu Yazid tersebar di kota Bustham dan para penduduk kota datang untuk menyongsongnya. Pasti Abu Yazid akan sibuk melayani mereka dan membuat ia akan terhalang untuk menyegerakan perintah Allah itu. Oleh karena itu ketika penduduk kota telah hampir sampai, dari lengan bajunya ia mengeluarkan sepotong roti, sedang saat itu adalah bulan Ramadhan, tetapi dengan tenang Abu Yazid memakan roti tersebut. Begitu penduduk Bustham menyaksikan perbuatan Abu Yazid, mereka lalu berpaling darinya,
“Tidakkah kalian saksikan”; kata Abu Yazid kepada sahabat-sahabatnya, “Betapa aku mematuhi sebuah perintah dari hukum suci, tapi semua orang berpaling dariku”.
Dengan sabar Abu Yazid menunggu sampai malam tiba. Tengah malam barulah ia memasuki kota Bustham. Ketika sampai di depan rumah ibunya, untuk beberapa lama ia berdiri mendengarkan ibunya yang sedang bersuci lalu shalat.
“Ya Allah, peliharalah dia yang terbuang”, terdengar doa ibunya, “Cenderungkanlah hati para syeikh kepada dirinya dan berikanlah petunjuk kepadanya untuk melakukan hal-hal yang baik.”
Mendengar doa ibunya itu Abu Yazid menangis. Kemudian ia mengetuk pintu.
“Siapakah itu?”, tanya ibunya dari dalam.
“Anakmu yang terbuang”, sahut Abu Yazid.
Dengan menangis si ibu membukakan pintu. Ternyata penglihatan ibunya sudah kabur.
“Thaifur”, si ibu berkata kepada puteranya. “Tahukah engkau mengapa mataku menjadi kabur seperti ini? Karena aku telah sedemikian banyaknya meneteskan air mata sejak berpisah denganmu. Dan punggungku telah bengkok karena beban duka yang kutanggungkan
itu”.

Perkataannya

Salah satu perkataannya ialah, “Saya mengenal Allah melalui Allah dan saya mengenali selain Allah cahaya Allah.” Ia berkata, “Allah telah memberikan hambanya rahmat dengan maksud mendekatkan mereka kepadaNya. Sebaliknya mereka terpana oleh rahmat tersebut dan menjauh dariNya.“ Dan ia berkata, berdoa kepada Allah,” O Allah, kau telah menciptakan makhluk ini tanpa pengetahuan dan memberikan mereka kepercayaan yang tidak diinginkan. Kalau Kau tidak menolong mereka, maka siapa yang akan menolong mereka?”

Bayazid mengatakan bahwa tujuan utama Sufi adalah mendapatkan pengalaman visi Allah di Akhirat. Ia berkata, “Ada hamba khusus Allah yang, jika Allah selubungi Dirinya dari pandangan mereka di Surga, maka akan memohon kepadaNya agar mengeluarkan mereka dari Surga seperti penghuni Api memohon kepadaNya agar melepaskan mereka dari Naraka.”

Ia juga berpendapat tentang cinta Allah kepada hambanya, “Jika Allah mencintai hambanya maka ia akan memberi mereka tiga atribut yang menjadi bukti cintanya: kemurahan seperti kemurahan samudra, dan rahmat bagaikan Matahari dalam memberikan cahayanya, dan kesederhanaan seperti kesederhanaan Bumi. Pecinta sejati tidak pernah terlalu terbebani dan tidak pernah mengurangi penghambaannya karena imannya.”

“Seseorang bertanya kepada Bayazid, “Tunjukkan aku perilaku yang bisa mendekati Tuhanku.” Ia berkata, “ Cintailah teman-teman Allah dengan maksud agar mereka mencintaimu. Cintailah waliNya sampai mereka mencintaimu. Karena Allah melihat ke dalam hati para waliNya dan Ia akan mengampunimu.” Untuk alasan ini, pengikut Naqshbandi telah di angkat oleh cinta mereka kepada sheikhs mereka. Cinta ini mengangkat mereka ke maqam kenikmatan dan kehadirat terus menerus di hati para yang mencintainya.

Banyak ulama Muslim di masanya dan dimasa setelah itu, berkata bahwa Bayazid al-Bistami adalah yang pertama menyebarkan Realitas Kenihilan (fana’). Bahkan ulama yang paling disiplin, Ibn Taymiyya, yang hidup di abad ke 7 (A.H), mengagumi Bayazid karena hal ini dan menganggapnya sebagai salah satu gurunya. Ibn Taymiyya berpendapat tentang dirinya, “ Ada dua katagori kefanaan; satu ditujukan untuk yang sempurna para Nabi dan wali, dan satu ditujukan untuk para pencari diantara para wali dan orang saleh.

Bayazid al-Bistami berasal dari katagori pertama yang mengalami fana’, yang artinya penolakan utuh semua hal kecuali Tuhan. Ia menerima hanya Tuhan. Ia menghamba hanya Dirinya, dan ia memohon hanya kepada Dirinya.” Ia melanjutkan, mengutip perkataan Bayazid, “ tidak ada yang kuinginkan selain keinginannya.”

Tentang Bayazid ia mengatakan, “Aku menceraikan dunia bahwa tig akali dengan maksud agar aku tidak bisa kembali ke dunia tersebut dan berjalan hanya ke arah Tuhan, tanpa siapapun, dan aku memohon pertolongan hanya kepadaNya dengan perkataan, ‘O Allah, O Allah, tak ada yang lain selain Dirimu.’ Pada saat itu aku menyadari ketulusan permohonanku dalam hati dan realitas ketidakberdayaan egoku. Langsung penerimaan permohonan tersebut diketahui hatiku. Hal ini memberi penyadaran bahwa aku tidak lagi ada dan menghilang total dari diriku kepada dirinya. Dan Ia mendatangkan semua yang telah aku ceraikan kehadapan ku, dan menghiasi aku dengan cahaya dan atribut-Nya.”

Bayazid berkata, “Pujalah Aku, untuk kemenangan terbesarKu!” selanjutnya ia mengatakan, “Aku berada di tengah samudra ketika nabi-nabi [terdahulu] masih berada di pantai.” Dan ia berkata, “O TuhanKu, kepatuhanMu kepada kau lebih besar dari kepatuhan ku kepadaMu.” Hal ini berarti, “O Tuhan, Kau mengabulkan permohonanku dan aku harus mematuhi Mu.”

Ia berkata, “Aku membuat empat kesalahan didalam langkah awal ku dijalan ini: Aku kira aku mengingat dan mengenalNya, mencintaiNya dan mencariNya, tapi ketika kau sampai padaNya, aku melihat bahwa ingatanNya tentang aku mendahului ingatanku tentang Dirinya, dan pengetahuanNya tentang aku mendahului pengetahuanku tentang Dirinya ; dan cintaNya kepadaku jauh lebih dulu ada dibandingkan cintaku kepadaNya, dan Ia memintaku dengan maksud agar aku mulai mencariNya,”

Dalam banyak hal besar, Adh-Dhahabi berpendapat, “Pujalah demi Kemenangan Terbesarku!” dan “Tidak ada jubah lain yang ku pakai selain jubah Allah.” Guru Adh-Dhahabi’s, Ibn Taymiyya menjelaskan, “Ia tidak lagi menganggap dirinya ada, tetapi hanya melihat keberadaan Allah, karena penolakan dirinya.”

Adh-Dhahabi selanjutnya berkata, “Ia berkata, Ya Allah, apakah Api-Mu? Bukan apa-apa. Biarkan lah aku menjadi satu-satunya orang yang menuju Apimu dan semua orang akan terselamatkan. Dan apakah Surga-Mu? Hanya sebuah mainan anak-anak. Dan siapakah yang tidak beriman yang ingin kau siksa? Mereka adalah hambamu. Ampunilah mereka.”

Ibn Hajar berkata, lewat referensi pernyataan Bayazid yang terkenal, “Allah tahu rahasia dan Allah mengetahui hati. Apapun yang dikatakan Aba Yazid tentang pengetahuan Realitas, orang-orang di masanya tidak mengerti. Mereka mengutuk dan mengasingkannya tujuh kali dari kotanya. Setiap kali di asingkan, penderitaan berat akan mengenai kota sampai orang-orang kota akan memanggilnya kembali, berjanji bergabung bersamanya dan menerimanya sebagai wali yang asli.”

Allau’uddin al-Attar dan Arusi mengutip perkataan Bayazid, ketika ia diasingkan dari kotanya, “O Kota Terberkahi, yang menolak Bayazid!”

Suatu ketika Bayazid berkata, “Allah yang Maha adil memanggilku kehadirat-Nya dan berkata, “O Bayazid bagaimana kau hadir dalam Hadirat Ku?”
aku menjawab, “melalui zuhd, melalui pengelakan dunia.” Kata-Nya, “Dunia hanya senilai sayap seekor nyamuk. Penolakan macam apa yang telah kau lakukan?’ aku menjawab, ‘O Allah, ampuni aku.’
Kemudian kataku, ‘Ya Allah, aku datang kepadaMu melalui tawakal, dengan ketergantungan kepadaMu’ kemudian ia berkata, ‘Pernahkah Aku mengkhianati kepercayaan yang Aku janjikan kepadamu?’ Aku berkata, ‘O Allah ampuni aku.’
Kemudian aku katakan, ‘O Allah, aku datang kepadaMu melalui dirimu.’ Saat itu Allah bersabda, ’Sekarang, Kami menerima mu.’”

Katanya, “Aku berdiri dengan orang saleh dan tidak menemui kemajuan apapun dengan mereka. Aku berdiri dengan para pejuang untuk alasan tersebut dan saya tidak menemukan satu langkah kemajuan pun dengan mereka. Aku berdiri dengan mereka yang berlebihan salat dan puasa tapi tidak mendapat kemajuan. Kemudian aku berkata, ‘Wahai Allah, manakah jalan menuju Mu?’ dan Allah bersabda, ‘tinggalkan dirimu dan datanglah.’”

Ibrahim Khawwas.rhm berkata, “Allah memberikan petunjuk kepadanya dengan cara yang paling halus dan penjelasan yang paling sederhana, yaitu ‘meninggalkan kepentingan-diri di dua dunia, dunia dan akherat, tinggalkan semua kecuali Aku.’ Itu adalah jalan terbaik dan termudah untuk hadir dihadapan Allah Yang Maha Kuasa dan Agung, paling sempurna dan tertinggi keesaannya, tidak menerima apapun dan siapapun kecuali Allah Yang Maha Tinggi.”

Salah satu pengikut Dzun Nun al Misri adalah juga pengikut Bayazid. Suatu saat Bayazid bertanya “Apakah yang kau inginkan?” dia menjawab “Aku ingin bayazid”. Beliau menjawab “Oh Anakku, Bayazid telah 40 tahun mencari Bayazid dan belum juga berhasil nenemukan dia”. Murid dari Dhun Nun itu kemudian menceritakan peristiwa ini kepada Dzun Nun. Mendengar cerita itu, Dzun Nun pingsan. Beliau menjelaskan kemudian, “Guruku Bayazid telah kehilangan dirinya di dalam Cinta Tuhan, ini menyebabkan dia mencoba mencari dirinya lagi”

Mereka bertanya kepadanya, “Ajari kami bagaimana engkau mencapai Realitas sejati.” Ia berkata, “Dengan melatih diri, dengan khalwat.” Mereka mengatakan, “Bagaimana?” Ia menjawab, “aku memanggil diriku untuk menerima Allah, dan diriku menolak. Aku bersumpah bahwa aku tidak akan minum air dan tidur sampai aku bisa mengendalikan diri.”

Ia juga berkata, “O Allah! Tidak mengherankan kalau aku mencintaimu karena aku seorang hamba yang lemah, tapi mengherankan kalau Kau mencintai-ku karena kau adalah Raja segala Raja.”

Ia berkata, “Selama tiga puluh tahun, ketika aku ingin mengingat Allah dan berdzikir, aku sering mencuci lidah dan mulutku demi kejayaannya.”

Ia berkata, “Seorang hamba berfikir ada orang diantara Muslim yang lebih rendah darinya, maka hamba itu memiliki harga diri.”

Mereka bertanya padanya, “Ceritakan siang dan malammu.” Jawabnya, “Aku tidak memiliki siang dan malam, karena siang dan malam diperuntukkan bagi mereka dengan karakteristik penciptaan. Aku telah menguliti diriku bagaikan pengulitan seekor ular.”

Tentang Sufisme Bayazid berkata: “Adalah untuk melepas istirahat dan menjalankan penderitaan.”

Tentang kewajiban untuk mengikuti seorang pemandu, ia berkata: “Siapa yang tidak memiliki seorang sheikh, maka sheikhnya adalah setan.”

Tentang Tuhan ia berkata, “Lapar adalah awan hujan. Jika seorang hamba lapar, Allah akan menyirami hatinya dengan rakhmatnya.”

Tentang perantara/intercession/wasilah/Syafa’at ia berkata, Mengenai syafaat beliau berkata: “Jika Tuhan memberikan izin untuk memberikan syafaat untuk setiap orang di zaman ku, aku tidak akan bangga, karena aku hanya akan menyelamatkan sepotong tanah liar”.

Jika tuhan memberikan aku izin untuk memberikan syafaat, maka yang pertama aku selamatkan adalah mereka yang telah menyakitiku dan menolakku.

Kepada seorang anak muda yang menginginkan jubah beliau untuk mendapat berkah, Bayazid berkata: “Kalau engkau mau, engkau bisa mengkuliti seluruh kulit Bayazid dan memakainya pada dirimu, tetapi itu tidak akan memberi nilai sama sekali, kecuali engkau mengikuti contoh yang telah kuberikan”.

Mereka berkata padanya, “Kunci Surga adalah ‘La ilaha ill-Allah’ (bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah).” Ia berkata, “benar, tetapi kunci adalah untuk membuka; dan kunci untuk kesaksian seperti itu hanya bisa berjalan di bawah kondisi berikut ini:

1) Lidah yang tidak berbohong dan melakukan fitnah/ghibah;

2) Hati yang tanpa pengkhianatan;

3) Perut yang tidak memakan yang haram atau meragukan (syubhat);

4) Ibadah yang ikhlas dan benar”

Ego dan diri kita selalu melihat ke dunia ini, sementara ruh selalu melihat ke kehidupan berikutnya. Pengetahuan spiritual selalu melihat Tuhan Yang Maha Kuasa. Barang siapa yang dikalahkan oleh dirinya sendiri adalah termasuk orang yang merugi. Barang siapa yang rohnya menang atas dirinya adalah golongan yang saleh, dan dia termasuk yang tercerahkan rohnya oleh pengetahuan spiritual dari kesadaran Tuhan.

“Suatu saat aku bertanya kepada Abdurrahman bin Yahya tentang tingkat keyakinan kepada Tuhan. Beliau berkata, “Jika engkau meletakkan tanganmu di mulut singa, maka janganlah takut kecuali kepada Allah” terbesit dihatiku untuk pergi dan menanyakan hal yang sama kepada Bayazid. Aku mengetuk pintu dan aku mendengar suara dari dalam “tidak cukupkah apa yang Abdurrahman katakan kepadamu? Engkau datang dengan keinginan untuk bertanya bukan untuk mengunjungi ku.” Aku mengerti dan datang lagi di lain waktu yaitu setahun kemudian dan mengetuk pintu beliau. Beliau menjawab “selamat datang anakku, sekarang engkau datang sebagai tamu bukan sebagai seorang yang bertanya”.

Mereka bertanya kepada beliau: “kapankah seseorang menjadi dewasa?” beliau berkata: “Ketika dia mengetahui kesalahan dirinya dan menyibukkan dirinya untuk memperbaikinya”.

Selama duabelas tahun aku menempa diriku. Selama lima tahun aku memoles hatiku. Selama satu tahun aku melihat ke cermin dan aku melihat di perutku ada sabuk kekafiran. Aku berusaha dengan keras untuk memotongnya. Aku menghabiskan dua belas tahun untuk itu. Dan kemudian aku melihat lagi ke dalam cermin dan aku melihat penahan di dalam tubuhku. Aku menghabiskan lima tahun untuk memotongnya. Dan aku menghabiskan waktu satu tahun melihat apa yang telah aku lakukan. Tuhan membukakan kepadaku rahasia dari seluruh ciptaan. Aku melihat semuanya mati. Dan aku melakukan shalat jenazah untuk mereka.

Jika Singgasana Allah, dengan apa yang ada di sekitarnya dan dengan apa yang ada di dalamnya diletakkan di sudut hati seorang yang Alim, maka semua itu akan hilang di dalamnya.

Tentang tingkatan Bayazid, al-Abbas ibnu Hamza menuturkannya sebagai berikut: “Suatu hari aku shalat zuhur di belakang Bayazid. Ketika beliau mengangkat tangannya untuk melakukan takbir Allahu Akbar beliau tidak sanggup untuk mengucapkannya, takut akan Asma Allah. Seluruh tubuhnya gemetar. Dan suara seperti tulang patah terdengar. Aku menjadi takut dan takjub”.

Munawi mengatakan bahwa suatu hari, Bayazid hadir dalam pelajaran fiqh (syariat) yang sedang menjelaskan hukum waris: “Ketika seseorang mati dan meninggalkan ini itu, anaknya akan memperoleh ini itu, dll.” Bayazid menjelaskan: “O faqih, O faqih! Apa pendapatmu tentang orang yang meninggal tapi tidak meninggalkan apa-apa selain Tuhan?” Orang mulai menangis, dan Bayazid meneruskan: “Budak itu tidak memiliki apa-apa; ketika ia meninggal, ia tidak meninggalkan apa-apa kecuali gurunya sendiri. Ia tinggal sebagai apa yang Allah ciptakan pada awalnya.” Dan ia mengucapkan: “Kau akan kembali kepada kami seorang diri, seperti yang dahulu kami ciptakan” [6:94].

Sahl at-Tutsari mengirimkan selembar surat kepada Bayazid yang isinya, “ini adalah orang yang telah meneguk minuman yang telah menghilangkan dahaga untuk selamanya” Bayazid membalas. “Ini adalah mulutnya tetap kering dan terbakar oleh rasa haus”.

Adh-Dhabi mengutip pernyataan beliau dalam banyak hal, salah satunya adalah ”Terpujilah Aku, demi kesabaran Ku” dan tidak ada di dalam jubah yang ku pakai ini kecuali Allah”

Guru dari Adh-Dhabi yaitu ibnu Taymiyya, menjelaskan “dia tidak melihat keberadaan dirinya lagi, tetapi hanya melihat keesaan Tuhan, melalui penyangkalan diri”

Mereka bertanya kepada beliau “Ajaran kepada kami bagaimana engkau mencapai Hakikat ini” beliau menjawab “dengan melatih diriku melalui pengasingan diri.” Mereka bertanya “Bagaimana caranya?” beliau menjawab, “aku bersumpah bahwa diriku menerima Tuhan Yang Maha Tinggi tetapi diriku menolak. Kemudian Aku bersumpah bahwa aku tidak akan minum dan tidur sampai aku bisa menguasai diriku,”

Beliau juga berkata, “Oh Tuhanku! Tidaklah aneh jika aku begitu mencintai Mu karena aku adalah seorang hamba yang lemah, tetapi yang aneh adalah Engkau mencintai ku sementara Engkau adalah Maha Raja”

Beliau berkata “selama tiga tahun setiap aku ingin mengingat Allah dan melakukan zikir, aku membasahi lidah dan mulutku untuk Kebesaran-Nya.”

Beliau berkata “Sepanjang seseorang merasa muslim yang lain lebih rendah dari dirinya, itu artinya dia masih memiliki rasa sombong”

Mereka bertanya kepada beliau “apa yang engkau lakukan ketika siang dan ketika malam” beliau berkata “aku tidak mempunyai siang dan aku tidak mempunyai malam, karena siang dan malam adalah sifat dari ciptaan. Aku telah meninggalkan diriku seperti ular mengganti kulitnya”

Mengenai Sufisme beliau berkata:
Untuk meninggalkan istirahat dan menerima kesulitan.

Mengenai pentingnya mengikuti seorang pembimbing/Mursyid, beliau berkata:
“Barang siapa tidak mempunyai Shaykh, maka shaykhnya adalah setan”.

Tentang Pencarian Tuhan

Rasa lapar seperti hujan berawan, jika seorang menjadi lapar, Tuhan akan menyiram hatinya dengan Hikmah.

Wafatnya

Ketika Bayazid meninggal, beliau berusia lebih dari tujuh puluh tahun. Sebelum meninggal, seseorang bertanya tentang usia beliau. Beliau menjawab, “usiaku empat tahun. Selama tujuh puluh tahun aku terhijab. Aku baru bisa membukanya empat tahun yang lalu”

Shaykh ke-39 dari mata rantai emas, Sultan Awliya Shaykh Abdullah faiz Daghestani, menjelaskan hal ini ketika beliau bersama Khidir AS, yang memberi tahu beliau, pada saat dia menunjuk kuburan di pemakaman para ulama besar, “yang ini berusia tiga tahun, yang ini tujuh tahun, dan yang itu dua belas tahun.”

Grandshaykh Bayazid meninggal pada tahun 261H/875M. konon beliau dimakamkan di dua tempat yanitu Damaskus dan Bistam di Iran. Rahasia dari Mata Rantai Emas diserahkan oleh Mawlana Bayazid Al-Busthami kepada Shaykh Abul Hasan al-Kharqani (qs).

Mi’raj Abu Yazid al-Busthami

Abu Yazid mengisahkan: Dengan tatapan yang pasti aku memandang Allah setelah Dia membebaskan diriku dari semua makhluk-Nya, menerangi diriku dengan cahaya-Nya, membukakan keajaiban-keajaiban rahasia-Nya dan menunjukkan kebesaran-Nya kepadaku.
Setelah menatap Allah aku pun memandang diriku sendiri dan merenungi rahasia serta hakekat diriku ini. Cahaya diriku adalah kegelapan jika dibanding dengan cahaya-Nya kebesaran diriku sangat kecil jika dibanding dengan kebesaran-Nya; kemuliaan diriku hanyalah kesombongan yang sia-sia jika dibandingkan dengan kemuliaan-Nya. Di dalam Allah segalanya suci sedang di dalam diriku segalanya kotor dan cemar.

Bila kurenungi kembali, maka tahulah aku bahwa aku hidup karena cahaya Allah. Aku menyadari kemuliaan diriku bersumber dari kemuliaan dan kebesaran-Nya. Apa pun yang telah kulakukan, hanya karena kemahakuasaan-Nya. Apa pun yang telah terlihat oleh mata lahirku, sebenarnya melalui Dia. Aku memandang dengan mata keadilan dan realitas. Segala kebaktianku bersumber dari Allah, bukan dari diriku sendiri, sedang selama ini aku beranggapan bahwa akulah yang berbakti kepada-Nya.
Aku bertanya: “Ya Allah, apakah ini?”
Dia menjawab: ”Semuanya adalah Aku, tidak ada sesuatu pun juga kecuali Aku”.
Kemudian ia menjahit mataku sehingga aku tidak dapat melihat.
Dia menyuruhku untuk merenungi akar permasalahan, yaitu diri-Nya sendiri. Dia meniadakan aku dari kehidupan-Nya sendiri, dan Ia memuliakan diriku. Kepadaku dibukakan-Nya rahasia diri-Nya sendiri sedikit pun tidak tergoyahkan oleh karena adaku. Demikianlah Allah, kebenaran Yang Tunggal menambahkan realitas ke dalam diriku. Melalui Allah aku memandang Allah, dan kulihat Allah di dalam realitas-Nya.

Di sana aku berdiam dan beristirahat untuk beberapa saat lamanya. Kututup telinga dari derap perjuangan. Lidah yang meminta-minta kutelan ke dalam tenggorokan keputusasaan. Ku-campakkan pengetahuan yang telah kutuntut dan kubungkamkan kata hati yang menggoda kepada perbuatan-perbuatan aniaya. Dimana aku berdiam dengan tenang. Dengan karunia Allah aku membuang kemewahan-kemewahan dari jalan yang menuju prinsip-prinsip dasar. Allah menaruh belaskasih kepadaku. Ia memberkahiku dengan pengetahuan abadi dan menanam lidah kebajikan-Nya ke dalam tenggorokanku. Untukku diciptakan-Nya sebuah mata dari cahaya-Nya, semua makhluk kulihat melalui Dia. Dengan lidah kebajikan itu aku berkata-kata kepada Allah, dengan pengetahuan Allah kuperoleh sebuah pengetahuan, dan dengan cahaya Allah aku menatap kepada-Nya.
Allah berkaca kepadaku: “Wahai engkau yang tak memiliki sesuatu pun jua namun telah memperoleh segalanya, yang tak memiliki perbekalan namun telah mempunyai kekayaan!”.
“Ya Allah”, jawabku, “Jangan biarkan diriku terperdaya oleh semua itu. Jangan biarkan aku puas dengan diriku sendiri tanpa mendambakan diri—Mu. Adalah lebih baik jika Engkau menjadi milikku tanpa aku, daripada aku menjadi milikku sendiri tanpa Engkau.
Lebih baik jika aku berkata-kata kepada—Mu melalui Engkau, dari-pada aku berkata-kata kepada diriku sendiri tanpa Engkau”.
Allah berkata: “Oleh karena itu perhatikanlah hukum-Ku dan janganlah engkau melanggar perintah serta larangan-Ku, agar Kami berterimakasih akan segala jerih payahmu”,
“Aku telah membuktikan imanku kepada-Mu dan aku benar-benar yakin bahwa sesungguhnya Engkau lebih pantas untuk berterimakasih kepada diri-Mu sendiri daripada kepada hamba-Mu.
Bahkan seandainya Engkau mengutuk diriku ini, Engkau bebas dari segala perbuatan aniaya”.
“Dari siapakah engkau belajar?”, tanya Allah.
”la Yang Bertanya lebih tahu dari ia yang ditanya”, jawabku,
“karena Ia adalah Yang Dihasratkan dan Yang Menghasratkan, Yang Dijawab dan Yang Menjawab”.

Setelah Dia menyaksikan kesucian hatiku yang terdalam, aku mendengar seruan puas dan Allah. Dia mencap diriku dengan cap kepuasan-Nya. Dia menerangi diriku, menyelamatkanku dari kegelapan hawa nafsu dan kecemaran jasmani. Aku tahu bahwa melalui Dia-lah aku hidup dan karena kelimpahan-Nya-lah aku bisa menghamparkan permadani kebahagiaan di dalam hatiku.

“Mintalah kepada-Ku segala sesuatu yang engkau kehendaki”, kata Allah.
“Engkaulah yang kuinginkan”, jawabku, “karena Engkau lebih dari kelimpahan, lebih dari kemurahan dan melalui Engkau telah
kudapatkan kepuasan di dalam Engkau. Karena Engkau adalah milikku, telah kugulung catatan-catatan kelimpahan dan kemurahan.
Janganlah Engkau jauhkan aku dari diri-Mu dan janganlah Engkau berikan kepadaku sesuatu yang lebih rendah daripada Engkau”.
Beberapa lama Dia tak menjawab. Kemudian sambil meletakkan mahkota kemurahan hati ke atas kepalaku, berkatalah Dia:
“Kebenaranlah yang engkau ucapkan dan realitaslah yang engkau cari, karena itu engkau menyaksikan dan mendengarkan kebenaran”.
“Jika aku telah melihat”, kataku pula, “melalui Engkaulah aku melihat, dan jika aku telah mendengar, melalui Engkaulah aku mendengar. Setelah Engkau, barulah aku mendengar”.

Kemudian kuucapkan berbagai pujian kepada-Nya. Karena itu la hadiahkan kepadaku sayap keagungan, sehingga aku dapat melayang-layang memandangi alam kebesaran-Nya dan hal-hal menakjubkan dari ciptaan-Nya. Karena mengetahui kelemahanku dan apa-apa yang kubutuhkan, maka Ia menguatkan diriku dengan kekuatan-Nya sendiri dan mendandani diriku dengan perhiasan-perhiasan-Nya sendiri.

Ia menaruh mahkota kemurahan hati ke atas kepalaku dan membuka pintu istana keleburan untukku. Setelah Ia melihat betapa sifat-sifatku lebur ke dalam sifat-sifat-Nya, dihadiahkan-Nya kepadaku sebuah nama dari hadirat-Nya sendiri dan berkata-kata kepadaku dalam wujud-Nya sendiri. Maka terciptalah keleburan dan punahlah perpisahan. “Kepuasan Kami adalah kepuasanmu”, kata-Nya, “dan kepuasanmu adalah kepuasan Kami. Ucapan-ucapanmu tak mengandung kecemaran dan tak seorang pun akan menghukummu karena ke-aku-anmu”.
Kemudian Dia menyuruhku untuk merasakan hunjaman rasa cemburu dan setelah itu Ia menghidupkan aku kembali. Dari dalam api pengujian itu aku keluar dalam keadaan suci bersih.

Kemudian Dia bertanya:
“Siapakah yang memiliki kerajaan ini?”
“Engkau”, jawabku.
“Siapakah yang memiliki kekuasan?”
“Engkau”, jawabku.
“Siapakah yang memiliki kehendak?”
“Engkau”, jawabku.

Karena jawaban-jawabanku itu persis seperti yang didengarkan pada awal penciptaan, maka ditunjukkan-Nya kepadaku betapa jika bukan karena belaskasih-Nya, alam semesta tidak akan pernah tenang, dan jika bukan karena cinta-Nya segala sesuatu telah dibinasakan oleh kemahaperkasaan—Nya. Dia memandangku dengan mata Yang Maha Melihat melaui medium Yang Maha Memaksa, dan segala sesuatu mengenai diriku sirna tak terlihat.

Di dalam kemabukan itu setiap lembah kuterjuni. Kulumatkan tubuhku ke dalam setiap wadah gejolak api cemburu. Kupacu kuda pemburuan di dalam hutan belantara yang luas. Kutemukan bahwa tidak ada yang lebih baik daripada kepapaan dan tidak ada yang lebih baik daripada ketidakberdayaan. Tiada pelita yang lebih terang daripada keheningan dan tiada kata-kata yang lebih merdu daripada kebisuan. Aku menghuni istana keheningan, aku mengenakan pakaian ketabahan, sehingga segala masalah terlihat sampai ke akar-akarnya. Dia melihat betapa jasmani dan rohaniku bersih dari kilasan hawa nafsu, kemudian dibukakan-Nya pintu kedamaian di dalam dadaku yang kelam dan diberikan-Nya kepadaku lidah keselamatan dan ketauhidan.

Kini telah kumiliki sebuah lidah rahmat nan abadi, sebuah hati yang memancarkan nur Ilahi, dan mata yang telah ditempa oleh tangan-Nya sendiri. Karena Dia-lah aku berbicara dan dengan kekuasaan-Nya-lah aku memegang. Karena melalui Dia aku hidup, maka aku tidak akan pernah mati. Karena telah mencapai tingkat keluhuran ini maka isyaratku adalah abadi, ucapanku berlaku untuk selama-lamanya, lidahku adalah lidah tauhid dan ruhku adalah ruh keselamatan. Aku tidak berbicara mengenai diriku sendiri sebagai seorang pengkhotbah dan aku tidak berbicara melalui diriku sendiri sebagai seorang pemberi peringatan. Dialah yang menggerakkan lidahku sesuai dengan kehendak-Nya sedang aku hanyalah seseorang yang menyampaikan. Sebenarnya yang berkata-kata ini adaiah Dia, bukan aku.

Setelah memuliakan diriku Dia berkata: “Hamba-hamba-Ku ingin bertemu denganmu”.
“Bukanlah keinginanku untuk menemui mereka”, jawabku.
“Tetapi jika Engkau menghendakiku untuk menemui mereka, maka aku tidak akan menentang kehendak-Mu. Hiaslah diriku dengan keesaan-Mu, sehingga apabila hamba-hamba-Mu memandangku, yang terpandang oleh mereka adalah ciptaan—Mu. Dan mereka akan melihat Sang Pencipta semata-mata, bukan diriku ini”.
Keinginanku ini dikabulkan-Nya. Ditaruh-Nya mahkota kemurahan hati ke atas kepalaku dan Ia membantuku mengalahkan jasmaniku.

Setelah itu Dia berkata: “Temuilah hamba-hamba-Ku itu”.
Aku pun berjalan selangkah menjauhi hadirat-Nya. Tetapi pada langkah yang kedua aku jatuh terjerumus. Terdengarlah olehku
seruan:
“Bawalah kembali kekasih-Ku kemari. Ia tidak dapat hidup tanpa Aku dan tidak ada satu jalan pun yang diketahuinya kecuali jalan yang menuju Aku”.
Setelah aku mencapai taraf peleburan ke dalam keesaan itulah saat pertama aku menatap Yang Esa — bertahun-tahun lamanya aku mengelana di dalam lembah yang berada di kaki bukit pemahaman; kisah Abu Yazid.

Akhirnya aku menjadi seekor burung dengan tubuh yang berasal dari keesaan dan dengan sayap keabadian. Terus menerus aku melayang-layang di angkasa kemutlakan. Setelah terlepas dari segala sesuatu yang diciptakan-Nya, akupun berkata: “Aku telah sampai kepada Sang Pencipta”.
Kemudian kutengadahkan kepalaku dari lembah kemuliaan. Dahagaku kupuaskan seperti yang tak pernah terulang di sepanjang zaman. Kemudian selama tiga puluh ribu tahun aku terbang di dalam keleburan-Nya yang luas, tiga puluh ribu tahun di dalam kemuliaan-Nya dan selama tiga puluh ribu tahun di dalam keesaan-Nya. Setelah berakhir masa sembilan puluh ribu tahun terlihatlah olehku Abu Yazid, dan segala yang terpandang olehku adalah aku sendiri.

Kemudian aku jelajahi empat ribu padang belantara. Ketika sampai ke akhir penjelajahan itu terlihatlah olehku bahwa aku masih berada pada tahap awal kenabian. Maka kulanjutkan pula pengembaraan yang tak berkesudahan itu untuk beberapa lama, aku katakan: “Tidak ada seorang manusia pun yang pernah mencapai kemuliaan yang lebih tinggi daripada yang telah kucapai ini. Tidak mungkin ada tingkatan yang lebih tinggi daripada ini”.
Tetapi ketika kutajamkan pandangan ternyata kepalaku masih berada di tapak kaki seorang Nabi. Maka sadarlah aku, bahwa tingkat terakhir yang dapat dicapai oleh manusia-manusia suci hanyalah sebagai tingkatan awal dari kenabian. Mengenai tingkat terakhir dari kenabian tidak dapat kubayangkan.

Kemudian ruhku menembus segala penjuru di dalam kerjaaan Allah. Surga dan neraka ditunjukkan kepada ruhku itu tetapi ia tidak perduli. Apakah yang dapat menghadang dan membuatnya perduli?.
Semua sukma yang bukan Nabi yang ditemuinya tidak diperdulikannya. Ketika ruhku mencapai sukma manusia kesayangan Allah, Baginda Nabi Rasulullah Muhammad SAW, terlihatlah olehku seratus ribu lautan api yang tiada bertepi dan seribu tirai cahaya. Seandainya kucercahkan kaki ke dalam yang pertama di antara lautan-lautan api itu, niscaya aku hangus binasa. Aku sedemikian gentar dan bingung sehingga aku jadi sirna. Tetapi betapa pun besar keinginanku, aku tidak berani memandang tiang perkemahan Sayidinna Muhammad, Rasulullah. Walaupun aku telah berjumpa dengan Allah, tetapi aku tidak berani berjumpa dengan Rasulullah Muhammad SAW.

Kemudian Abu Yazid berkata: “’Ya Allah, segala sesuatu yang telah terlihat olehku adalah aku sendiri. Bagiku tiada jalan yang menuju kepada-Mu selama aku ini masih ada. Aku tidak dapat menembus keakuan ini, apakah yang harus kulakukan?”
Maha terdengarlah perintah: “Untuk melepaskan keakuanmu itu ikutilah kekasih Kami, Muhammad si orang Arab. Usaplah matamu dengan debu kakinya dan ikutilah jejaknya….

ABU YAZID DAN YAHYA BIN MU’ADZ

Yahya bin Mu’adz menulis surat kepada Abu Yazid: “Apakah katamu mengenai seseorang yang telah mereguk secawan arak danmenjadi mabuk tiada henti-hentinya?”
“Aku tidak tahu”, jawab Abu Yazid. “Yang kuketahui hanyalah bahwa di sini ada seseorang yang sehari semalam telah mereguk isi samudera luas yang tiada bertepi namun masih merasa haus dan dahaga”.

“Yahya bin Mu’adz menyurati lagi: “Ada sebuah rahasia yang hendak kukatakan kepadamu tetapi tempat pertemuan kita adalah di dalam surga. Di sana, di bawah naungan pohon Tuba akan kukatakan rahasia itu kepadamu”.
Bersamaan surat itu dia kirimkan sepotong roti dengan pesan:
“Syeikh harus memakan roti ini karena aku telah membuatnya dari air zamzam”.

Di dalam jawabannya Abu Yazid berkata mengenai rahasia yang hendak disampaikan Yahya itu: “Mengenai tempat pertemuan yang engkau katakan, dengan hanya mengingat-Nya, pada saat ini juga aku dapat menikmati surga dan pohon Tuba. Tetapi roti yang engkau kirimkan itu tidak dapat kunikmati, Engkau memang mengatakan air apa yang telah engkau pergunakan, tetapi engkau tidak mengatakan bibit gandum apa yang telah engkau taburkan”.

Maka Yahya bin Mu’adz ingin sekali mengunjungi Abu Yazid, ia datang pada waktu shalat ’Isa. Yahya berkisah sebagai berikut:

Aku tidak mau mengganggu Syeikh Abu Yazid. Tetapi aku pun tidak dapat bersabar hingga pagi. Maka pergilah aku ke suatu tempat di padang pasir di mana aku dapat menemuinya pada saat itu seperti yang dikatakan orang-orang kepadaku. Sesampainya di tempat itu terlihat olehku Abu Yazid sedang shalat ’Isa. Kemudian ia berdiri di atas jari-jari kakinya sampai keesokan harinya. Aku tegak terpana menyaksikan hal ini. Sepanjang malam kudengar Abu Yazid berdoa.

Ketika fajar tiba, kudengar Abu Yazid berkata di dalam doanya:
“Aku berlindung kepadamu dari segala hasratku untuk menerima kehormatan-kehormatan ini”.

Setelah sadar, Yahya mengucapkan salam kepada Abu Yazid dan bertanya apakah yang telah dialaminya pada malam tadi. Abu Yazid menjawab: “Lebih dari dua puluh kehormatan telah ditawarkan kepadaku. Tetapi tak satu pun yang kuinginkan karena semuanya adalah kehormatan-kehormatan yang membutakan mata”.
“Guru, mengapakah engkau tidak meminta pengetahuan mistik, karena bukankah Dia Raja di antara sekalian raja dan pernah berkata:
‘Mintalah kepada-Ku segala sesuatu yang engkau kehendaki?'” Yahya bertanya.
“Diamlah!”, sela Abu Yazid. “Aku cemburu kepada diriku sendiri yang telah mengenal-Nya, karena aku ingin tiada sesuatu punkecuali Dia yang mengenal diri-Nya. Mengenai pengetahuan-Nya, apakah perduliku. Sesungguhnya seperti itulah kehendak-Nya, Yahya. Hanya Dia, dan bukan siapa-siapa yang akan mengenal diri-Nya”.

“Demi keagungan Allah, Yahya bermohon, “berikanlah kepadaku sebagian dari karunia-karunia yang telah ditawarkan kepadamu malam tadi”.
“Seandainya engkau memperoleh kemuliaan Adam, kesucian Jibril, kelapangan hati Ibrahim, kedambaan Musa kepada Allah, kekudusan ’Isa, dan kecintaan Muhammad, niscaya engkau masih merasa belum puas. Engkau akan mengharapkan hal·hal lain yang melampaui segala sesuatu”, jawab Abu Yazid. “Tetaplah merenung Yang Maha Tinggi dan jangan rendahkan pandanganmu, karena apabila engkau merendahkan pandanganmu kepada sesuatu hal maka hal itulah yang akan membutakan matamu”. ·

Kisah Sahabat Abu Yazid Al Bistami

Tidak sedikit tokoh sufi lain yang bersahabat dengannya,beberapa diantaranya adalah Ahmad Ibn Khadrawyh dan Yahya ibn Mu’adz al-Razi.

Ahmad Ibn Khadrawyh

Nama lengkapnya Abu Hamid ibn Ahmad ibn Khadrawyh al Balkhi, seorang syaikh sufi yang begitu agung dalam futuwwah,yaitu perilaku mulia yang mengikuti teladan Nabi SAW, wali, orang-orang bijak,dan para pecinta Allah. Ia belajar kepada Abu Turab al-Nakhsyaby. Ketika datang di Naishabur ke rumah Abu Hafs – sapaan Abu Turab al-Nakhsyaby – beliau berkata, “Aku belum pernah melihat seseorang yang lebih besar hasratnya dan lebih benar kondisi rohaninya dibanding Ahmad ibn Khadrawyh.” Ketika melanjutkan perjalanan ke Bistam menemui Abu Yazid al-Bistami, Abu Yazid pun menyambutnya dengan menyebut, “Ahmad, guru kami.”

Ahmad ibn Khadrawyh menulis karya-karya terkenal mengenai etika dan wacana-wacana cemerlang tentang tasawuf. Ujaran-ujarannya bermutu tinggi dan kebenaran ungkapan-ungkapannya bisa dipertanggungjawabkan. Berikut ucapan-ucapan Ahmad ibn Khadrawyh.

“Tiada tidur yang lebih berat ketimbang kealpaan. Tiada belenggu yang memperbudak ketimbang syahwat. Bila saja muatan berat kealpaan pada dirimu tidak ada, tentu engkau tidak berbuat syahwat.”

“Jalan sudah terbentang dan kebenaran sudah jelas, penggembala telah menyerukan panggilannya. Sesudah itu,jika seseorang kehilangan dirinya sendiri karena kebutaannya sendiri, sungguh keliru mencari-cari jalan, karena jalan menuju Tuhan adalah seperti kilatan sinar matahari. Hendaknya engkau mencari dirimu sendiri, karena bilamana engkau telah menemukan dirimu sendiri, engkau akan sampai pada tujuan perjalanan,karena Tuhan terlalu nyata untuk dicari.”

“Bunuhlah jiwamu itu sehingga ia dapat kamu hidupkan kembali. Tuhan itu terang dan nyata. Jika engkau tidak dapat melihatnya maka matamulah yang buta.”

Ahmad ibn Khadrawyh yang beristri Fatimah putri Amir Balkh, tinggal di Naishabur dan wafat pada 240 H/854 M dalam usia 95 tahun.

Yahya ibn Mu’adz al-Razi

Nama lengkapnya Abu Zakariyya Yahya ibn Mu’adz al-Razi. Pada suatu hari ia menulis sepucuk surat kepada sahabatnya, Abu Yazid al-Bistami, bahwa dia sudah mabuk oleh karena terlalu banyak meminum khamar cinta. Abu Yazid membalas,“Orang lain pun telah meminum air demikian sepenuh lautan, langit dan bumi, tetapi dia belum juga merasa puas,dia masih tetap menjulurkan lidahnya meminta tambah lagi dan tambah lagi.”Tentu yang ia maksud dengan ‘orang lain’ itu adalah dirinya (Abu Yazid) sendiri.

Yahya ibn Mu’adz al-Razi adalah salah seorang murid Ibn Karram yang meninggalkan Rayy, kota kelahirannya dan beberapa lama menetap di Balkh. Kemudian, pindah ke Naishabur dimana beliau wafat pada 258 H/871 M.

Yahya menulis banyak kitab yang sebagian besar telah hilang. Ucapanucapan di dalam bukunya disusun hati-hati, enak didengar, padat isinya, serta berguna bagi pengabdian. Ungkapanungkapannya yang tersebar dan beberapa sajaknya yang sampai kepada pembaca,memiliki gaya yang indah dan berbeda dengan ungkapan para sufi Baghdad dan Khurasan. Ia dikenal sebagai seorang khatib yang memanggil jamaahnya untuk mendekat kepada Allah. Meskipun banyak sufi lain yang suka memberikan khatbah bagi umum, ia adalah satu-satunya sufi yang mendapat julukan al-wa’iz (juru khatbah).

Yahya juga banyak berbicara tentang Cinta illahi. Ia pernah mengatakan, “Cinta sejati tidak redup oleh kekejaman kekasih,dan tidak tumbuh oleh karunia Tuhan, ia senantiasa berlangsung sama.”

Ia pernah berbicara tentang perbedaan antara orang yang datang menghadiri pesta dan orang yang datang ke pesta dengan maksud menemui kekasihnya. Inilah perbedaan antara petapa yang merindukan surga demi kenikmatan dan pecinta yang merindukan wajah gemilang Kekasih Abadinya. Yahya mengucapkan kata-kata yang sering dikutip.

“Maut itu indah, sebab ia menggabungkan sahabat dengan Sahabat.”

Ciri yang paling menonjol dalam kesalehan Yahya adalah renungan suatu kepercayaan mengenai Allah yang penuh kasih sayang. Dalam bentuk dialektis,doa-doanya menunjukkan kontras antara pendosa yang putus asa dan Allah Maha Kuasa yang bisa memaafkan umat-Nya yang papa dengan harta ampunan yang tak habis-habisnya.

Di antara doanya, “Ya, Allah. Kau telah mengirim Musa dan Harun kepada Fir’aun si pemberontak dan berkata. ‘Berbicaralah baik-baik dengannya.’‘Ya, Allah, inilah kebaikan hati-Mu terhadap orang yang menganggap dirinya Tuhan; bagaimana pula gerangan kebaikan hati-Mu terhadap orang yang menjadi abdi-Mu sepenuh jiwanya? Ya, Allah, aku takut kepada-Mu karena Kaulah Tuan. Ya,Allah, bagaimana aku tidak berharap pada-Mu, padahal Kau penuh maaf, dan bagaimana pula aku tidak takut pada-Mu karena Kau Maha Kuasa? Ya, Allah, bagaimana aku datang kepada-Mu karena aku budak yang memberontak, dan bagaimana aku tidak datang kepada-Mu karena Kau Penguasa Yang Pemurah?”

Yahya mempercayai sedalam dalamnya Maha Rahman dan Rahim Tuhan dapat menutup setiap dosa. Sebab betapa pun hampir sempurna seorang manusia, berbuat dosa tetap merupakan sifat manusia.Oleh karena itu, Yahya bermunajat,“Ya, Allah, meskipun aku tidak bisa menghindarkandiri dari dosa, kau bisa memaafkan dosa-dosa. Ya, Allah, aku tidak melakukan apa pun untuk bisa mencapai surga dan aku tidak tahan menghadapi api neraka, segalanya terpulang kepada kemurahan-Mu belaka. Ya, Allah, maafkan aku, karena aku milik-Mu.” (BAMS-MFH)

ABU YAZID DAN SEORANG MURIDNYA

Ada seorang pertapa di antara tokoh-tokoh suci terkenal di Bustham. Ia mempunyai banyak pengikut dan pengagum, tetapi ia sendiri senantiasa mengikuti pelajaran-pelajaran yang diberikan oleh Abu Yazid. Dengan tekun ia mendengarkan ceramah-ceramah Abu Yazid dan duduk bersama sahabat-sahabat beliau.

Pada suatu hari berkatalah ia kepada Abu Yazid: “Pada hari ini genaplah tiga puluh tahun lamanya aku berpuasa dan memanjatkan doa sepanjang malam sehingga aku tidak pernah tidur. Namun pengetahuan yang engkau sampaikan ini belum pernah menyentuh hatiku. Walau demikian aku percaya kepada pengetahuan itu dan senang mendengarkan ceramah-ceramahmu”.
“Walaupun engkau berpuasa siang malam selama tiga ratus tahun, sedikit pun dari ceramah-ceramahku ini tidak akan dapat engkau hayati”.
“Mengapakah demikian?”, tanya si murid.
“Karena matamu tertutup oleh dirimu sendiri”, jawab Abu Yazid.
“Apakah yang harus kulakukan?”, tanya si murid pula.
“Jika kukatakan, pasti engkau tidak mau menerimanya”.
“Akan kuterima! Katakanlah kepadaku agar kulakukan seperti yang engkau petuahkan”.
“Baiklah!”, jawab Abu Yazid. “Sekarang ini juga cukurlah janggut dan rambutmu, Tanggalkan pakaian yang sedang engkau kenakan ini dan gantilah dengan cawat yang terbuat dari bulu domba. Gantungkan sebungkus kacang di lehermu, kemudian pergilah ke tempat ramai. Kumpulkan anak-anak sebanyak mungkin dan katakan kepada mereka: ’Akan kuberikan sebutir kacang kepada setiap orang yang menampar kepalaku’. Dengan cara yang sama pergilah berkeliling kota, terutama sekali ke tempat-tempat di mana orang-orang sudah mengenalmu. Itulah yang harus engkau lakukan”.
“Maha Besar Allah! Tiada Tuhan kecuali Allah”, cetus si murid setelah mendengar kata-kata Abu Yazid itu.
“Jika seorang kafir mengucapkan kata-kata itu niscaya ia menjadi seorang Muslim”, kata Abu Yazid. “Tetapi dengan mengucapkan kata-kata yang sama engkau telah mempersekutukan Allah”.
“Mengapa begitu?”, tanya si murid.
“Karena engkau merasa bahwa dirimu terlalu mulia untuk berbuat seperti yang telah kukatakan tadi. Kemudian engkau mencetuskan kata-kata tadi untuk menunjukkan bahwa engkau adalah seorang penting, bukan untuk memuliakan Allah. Dengan demikian bukankah engkau telah mempersekutu-kan Allah?”.
“Saran-saranmu tadi tidak dapat kulaksanakan. Berikanlah saran-satan yang lain”, si murid berkeberatan.
“Hanya itulah yang dapat kusarankan”, Abu Yazid menegaskan.
“Aku tak sanggup melaksanakannya”, si murid mengulangi kata-katanya.
“Bukankah telah aku katakan bahwa engkau tidak akan sanggup untuk melaksanakannya dan engkau tidak akan menuruti kata-kataku?”, kata Abu Yazid.

Kisah-kisah Abu Yazid al-Busthami (q)

Abu Yazid berkata: “Dua belas tahun lamanya aku menjadi pandai besi bagi diriku sendiri. Kulemparkan diriku ke dalam tungku disiplin sampai merah membara di dalam nyala ikhtiar yang keras.
Kemudian kutaruh diriku ke atas alas penyesalan, lalu kupukul dengan martil pengutukan diri sendiri, sehingga akhirnya dapatlah kutempa sebuah cermin diriku sendiri. Lima tahun lamanya aku menjadi cermin diriku sendiri dan cermin itu senantiasa kupoles dengan segala macam kebaktian dan kepatuhan kepada Allah. Setelah itu setahun lamanya aku menatapi bayanganku sendiri di dalam cermin itu dan terlihatlah olehku betapa di pinggangku melilit sabuk kesesatan, kegenitan dan pemujaan diri sendiri yang hanya dimiliki oleh orang-orang kafir. Hal itu adalah karena aku membanggakan kepatuhan-kepatuhanku itu dan memuji perbuatan-perbuatanku tersebut. Lima tahun lamanya aku bersusah payah sehingga sabuk itu terlepas dari pinggangku, dan jadilah aku seorang Muslim yang baru.
Aku memandangi semua hamba Allah dan tampaklah olehku bahwa mereka semua mati. Empat kali kuucapkan Allahu Akbar di atas jasad-jasad mereka, dan setelah dengan pertolongan Allah aku menguburkan mereka tanpa menyeret-nyeret tubuh mereka, berjumpalah aku dengan Allah”.

ooo

Setiap kali Abu Yazid tiba di depan sebuah masjid, sesaat lamanya ia akan berdiri terpaku dan menangis.
“Mengapa engkau selalu berlaku demikian?” tanya seseorang kepadanya.
“Aku merasa diriku sebagai seorang wanita yang sedang haid.
Aku merasa malu untuk masuk dan mengotori masjid”, jawabnya.

ooo

Suatu ketika Abu Yazid melakukan perjalanan ke Hijaz, tetapi beberapa saat kemudian ia pun kembali lagi.
“Di waktu yang sudah-sudah engkau tidak pernah membatalkan niatmu. Mengapa sekarang engkau berbuat demikian?”, seseorang
bertanya kepada Abu Yazid.
“Baru saja aku palingkan wajahku ke jalan”, jawab Abu Yazid, “terlihatlah olehku seorang hitam yang menghadang dengan pedang terhunus dan berkata: ‘Jika engkau kembali, selamat dan sejahteralah engkau. Jika tidak, akan kutebas kepalamu. Engkau telah meninggalkan Allah di Bustham untuk pergi ke rumah-Nya”.

ooo

Abu Yazid mengisahkan: Di tengah jalan, aku bertemu dengan seorang lelaki. Ia bertanya kepadaku:
“Hendak ke manakah engkau?”
“Ke Tanah Suci” jawabku. ,
“Berapa banyakkah uang yang engkau bawa?”
“Dua ratus dirham”.
“Berikanlah uang itu kepadaku”, lelaki itu mendesak. “Aku adalah seorang yang telah berkeluarga. Kelilingilah diriku sebanyak tujuh kali maka selesailah ibadah hajimu itu”.
Aku menuruti kata-katanya kemudian kembali ke rumah.

ooo

Pir ’Umar meriwayatkan bahwa apabila Abu Yazid ingin menyendiri, baik untuk beribadah maupun untuk merenungi Allah, maka ia masuk ke dalam kamarnya dan dengan cermat menutupi setiap celah dan lobang di dinding kamar itu. Mengenai tingkahlakunya ini Abu Yazid menjelaskan:
“Aku kuatir kalau ada suara atau kebisingan yang akan mengganggu”.
Sudah pasti yang dikatakannya itu hanya sebuah dalih semata-mata.

ooo

Isa al-Busthami meriwayatkan: Selama tiga belas tahun bergaul dengan Syeikh Abu Yazid, tak pernah terdengar olehku ia mengucapkan sepatah kata pun. Demikianlah kebiasaannya, senantiasa menekurkan kepala ke atas kedua lututnya, kadang menengadah, mengeluh dan kembali ke dalam perenungannya.
Mengenai hal ini Sahlagi mengomentari, memang demikianlah tingkah laku Abu Yazid apabila berada dalam keadaan “gundah” tetapi apabila berada dalam keadaan “lapang”, setiap orang akan mendapatkan manfaat dari ceramah-ceramahnya.
“Pada suatu ketika”, Sahlagi bercerita, “ketika Abu Yazid sedang berkhalwat, terdengarlah ia mengucapkan kata-kata: ’Maha besar aku. Betapa mulia diriku ini’. Ketika ia sadar, murid-muridnya menyampaikan. kata-kata yang diucapkan lidahnya tadi kepadanya.
Maka Abu Yazid menjawab: ’Memusuhi Allah adalah sama dengan memusuhi Abu Yazid. Jika aku mengucapkan kata-kata seperti itu sekali lagi, cincanglah tubuhku ini’ “.
“Kemudian kepada setiap muridnya diberikannya sebuah pisau dengan pesan: ’Jika kata-kata tadi kuucapkan lagi, bunuhlah aku dengan pisau ini’ “.
“Tetapi apa nyana, untuk kedua kalinya Abu Yazid mengucapkan kata-kata yang sama. Murid-muridnya hendak membunuhnya.
Tetapi seketika itu juga tubuh Abu Yazid menggelembung dan memenuhi seluruh ruangan. Para sababat melepaskan bata-bata dari dinding ruangan itu sambil menghunjamkan pisau ke tubuh Abu Yazid. Tetapi pisau-pisau itu bagai menikam air dan pukulan-pukulan mereka sama sekali tidak berakibat apa-apa. Beberapa saat kemudian tubuh yang menggelembung tadi menciut kembali dan terlihatlah Abu Yazid yang bertubuh kecil seperti seekor burung pipit sedang duduk di sajadah. Sahabat-sahabatnya menghampirinya dan mengatakan apa yang telah terjadi. Abu Yazid berkata:
“Yang kalian saksikan sekarang inilah Abu Yazid, yang tadi bukan Abu Yazid”.

ooo

Suatu ketika Abu Yazid memegang sebuah apel merah ditangannya dan memandanginya.
“Satu buah apel yang indah”, kata Abu Yazid. Di saat itu juga sebuah suara berkata di dalam batinnya:
“Abu Yazid, tidakkah engkau mempunyai malu untuk memberikan nama-Ku kepada sebuah apel?”
Maka empat puluh hari lamanya lupalah Abu Yazid akan segala sesuatu kecuali nama Allah.
“Aku telah bersumpah”, Syeikh Abu Yazid menyatakan, “bahwa aku tidak akan memakan buah-buahan dari Bustham selama hidupku”.

ooo

Abu Yazid mengisahkan: Suatu hari ketika sedang duduk-duduk, datanglah sebuah pikiran ke dalam benakku bahwa aku adalah syeikh dan tokoh suci Zaman ini. Tetapi begitu hal itu terpikirkan olehku, aku segera sadar bahwa aku telah melakukan dosa besar. Aku lalu bangkit dan berangkat ke Khurazan. Di sebuah persinggahan aku berhenti dan bersumpah tidak akan meninggalkan tempat itu sebelum Allah mengutus seseorang untuk membukakan diriku.
Tiga hari tiga malam aku tinggal di persinggahan itu. Pada hari yang keempat kulihat seseorang yang bermata satu dengan menunggang seekor unta sedang datang ke tempat persinggahan itu.
Setelah mengamati dirimya dengan seksama, terlihatlah olehku tanda-tanda kesadaran ilahi di dalam dirinya. Aku mengisyaratkan agar unta itu berhenti lalu unta itu segera menekukkan kaki-kaki depannya. Lelaki bermata satu itu memandangiku.
“Sejauh ini engkau memanggilku”, katanya, “hanya untuk membukakan mata yang tertutup dan membukakan pintu yang terkunci serta untuk menenggelamkan penduduk Bustham bersama Abu Yazid?”
Aku jatuh lunglai. Kemudian aku bertanya kepada orang itu:
“Dari manakah engkau datang?”.
“Sejak engkau bersumpah itu telah beribu-ribu mil yang kutempuh”, kemudian ia menambahkan, “Berhati-hatilah Abu Yazid! Jagalah hatimu!”
Setelah berkata demikian ia berpaling dariku dan meninggalkan tempat itu.

ooo

Dzun Nun mengirim sebuah sajadah kepada Abu Yazid. Tetapi Abu Yazid mengembalikannya kepada Dzun Nun sambil berpesan:
“Apakah perluku dengan sebuah sajadah? Kirimkanlah sebuah bantal sebagai tempatku bersandar!”. Dengan ucapan tersebut Abu Yazid
ingin mengatakan bahwa ia telah berhasil mencapai tujuan.
Maka Dzun Nun mengirimkan sebuah bantal yang empuk.
Tetapi bantal itu pun dikembalikan Abu Yazid karena pada saat itu ia telah bertaubat dan tubuhnya tinggal kulit pembalut tulang.
Mengenai perbuatannya ini Abu Yazid mengatakan: “Manusia yang berbantalkan karunia dan kasih Allah tidak membutuhkan bantal dari
salah seorang di antara hamba-Nya”.

ooo

Abu Yazid berkisah: Suatu ketika aku bermalam di padang pasir. Kututupi kepalaku dengan pakaian dan aku pun tertidur.
Tanpa disangka-sangka aku mengalami sesuatu (yang dimaksudkan ;adalah mimpi berahi) sehingga aku harus mandi. Tetapi malam itu terlampau dingin, dan ketika terjaga aku merasa enggan sekali untuk bersuci dengan air dingin. “Tunggulah sampai matahari tinggi”, batinku berkata. Setelah menyadari betapa diriku enggan dan tidak memperdulikan kewajiban-kewajiban agama itu, aku segera bangkit, kulumerkan salju dengan jubahku lalu aku mandi. Jubah yang basah itu kukenakan kembali sehingga aku jatuh pingsan kedinginan. Beberapa saatkemudian aku siuman, ternyata jubahku telah kering.

ooo

Abu Yazid sering berjalan-jalan dalam sebuah pekuburan. Pada suatu malam ketika ia pulang dari pekuburan itu ia berpapasan dengan seorang pemuda bangsawan yang memainkan sebuah kecapi. “Semoga Allah melindungi kita!”, seru Abu Yazid.
Mendengar seruan itu si pemuda menyerang Abu Yazid dan memukulkan kecapi itu ke kepala Abu Yazid sehingga kepalanya berdarah dan kecapi itu sendiri pecah. Ternyata si pemuda dalam keadaan mabuk dan tidak menyadari siapakah yang diserangnya itu.
Abu Yazid terus pulang dan ketika hari telah siang, dipanggilnyalah salah seorang di antara murid-muridnya.
“Berapakah harga sebuah kecapi?”’, tanya Abu Yazid kepadanya.
Si murid memberitahu harganya. Dengan secarik kain dibungkusnya uang seharga kecapi ditambah dengan makanan yang manis-manis, lalu dikirimkannya kepada si pemuda.
“Sampaikan kepada pemuda itu bahwa Abu Yazid meminta maaf kepadanya. Katakan kepadanya bahwa tadi malam ia menyerang Abu Yazid dengan kecapinya sehingga kecapi itu pecah.
Sebagai gantinya terimalah uang ini dan belilah kecapi yang baru.
Sedang makanan-makanan yang manis ini adalah untuk menawarkan kedukaan hatimu karena kecapi milikmu itu telah pecah”.
Ketika si pemuda bangsawan itu menyadari perbuatan yang telah dilakukannya, ia pun mendatangi Abu Yazid untuk memohon maaf. Ia bertaubat. Begitu pula banyak pemuda-pemuda lain yang menyertainya.

ooo

Suatu hari Abu Yazid berjalan-jalan dengan beberapa orang muridnya. Jalan yang sedang mereka lalui sempit dan dari arah yang berlawanan datanglah seekor anjing. Abu Yazid menyingkir ke pinggir untuk memberi jalan kepada binatang itu.
Salah seorang murid tidak menyetujui perbuatan Abu Yazid ini dan berkata: “Allah Yang Maha Besar telah memuliakan manusia di atas segala makhluk-makhluk-Nya. Abu Yazid adalah ‘raja di antara kaum mistik’, tetapi dengan ketinggian martabatnya itu beserta murid·muridnya yang taat masih memberi jalan kepada seekor anjing. Apakah pantas perbuatan seperti itu?”
Abu Yazid menjawab: “Anak muda, anjing tadi secara diam-diam telah berkata kepadaku: ’Apakah dosaku dan apakah pahalamu pada awal kejadian sehingga aku berpakaian kulit anjing dan engkau mengenakan jubah kehormatan sebagai raja di antara para mistik?‘.
Begitulah yang sampai ke dalam pikiranku dan karena itulah aku memberikan jalan kepadanya”.

ooo

Pada suatu hari Abu Yazid sedang menyusuri sebuah jalan ketika seekor anjing berlari-lari di sampingnya. Melihat hal ini Abu Yazid segera mengangkat jubahnya, tetapi si anjing berkata:
“Tubuhku kering dan aku tidak melakukan kesalahan apa-apa. Seandainya tubuhku basah, engkau cukup menyucinya dengan air yang bercampur tanah tujuh kali, selesailah prrsoalan di antara kita.
Tetapi apabila engkau menyingsingkan jubah sebagai seorang Parsi, dirimu tidak akan menjadi bersih walau engkau membasuhnya dalam tujuh samudera”.
Abu Yazid menjawab: “Engkau kotor secara lahiriah tetapi aku kotor secara batiniah. Marilah kita bersama-sama berusaha agar kita berdua menjadi bersih”.
“Tetapi si anjing menyahut: “Engkau tidak pantas untuk berjalan bersama-sama dengan diriku dan menjadi sahabatku, karena semua orang menolak kehadiranku dan menyambut kehadiranmu. Siapapun yang bertemu denganku akan melempariku dengan batu tetapi siapa pun yang bertemu denganmu akan menyambutmu sebagai raja di antara para mistik. Aku tidak pernah menyimpan sepotong tulang tetapi engkau memiliki sekarung gandum untuk makanan esok hari”.
Abu Yazid berkata: “Aku tidak pantas berjalan bersama seekor anjing! Bagaimana aku dapat berjalan bersama Dia Yang Abadi dan Kekal? Maha Besar Allah yang telah memberi pengajaran kepada yang termulia di antara makhluk-Nya melalui yang terhina di antara semuanya!”.

Kemudian Abu Yazid meneruskan kisahnya:

“Aku sangat berduka, bagaimana aku dapat menjadi hamba Allah yang patuh? Aku berkata kepada diriku sendiri: ’Aku akan pergi ke pasar untuk membeli ikat pinggang (yang dikenakan oleh orang-orang yang bukan Muslim), dan ikat pinggang itu akan kupakai sehingga namaku menjadi hina di dalam pandangan orang! Maka pergilah aku ke pasar hendak membeli sebuah ikat pinggang. Di dalam sebuah toko terlihat olehku ikat pinggang yang sedang terpajang. “Harganya paling-paling satu dirham”, kataku dalam hati. `
Kemudian aku bertanya kepada pelayan toko itu: ’Berapa harga ikat pinggang ini?’. ’Seribu dinar’, jawabnya. Aku tak dapat berbuat apa-apa, hanya berdiri dengan kepala tertunduk. Pada saat itu terdengar olehku sebuah seruan dari atas langlt: ’Tidak tahukah engkau bahwa dengan harga di bawah seribu dinar orang-orang tidak akan menjual sebuah sabuk untuk diikatkan ke pinggang seorang manusia seperti engkau?. Mendengar seruan itu hatiku bersorak girang karena tahulah aku bahwa Allah masih memperhatikan hamba-Nya ini”.

ooo
Suatu malam Abu Yazid bermimpi malaikat-malaikat dari langit pertama turun ke bumi. Kepada Abu Yazid mereka berseru: “Bangkitlah dan marilah berdzikir kepada Allah!”
Abu Yazid menjawab: “Aku tidak mempunyai lidah untuk berdzikir kepada·Nya”.
Malaikat-malaikat dari langit yang kedua turun pula ke bumi.
Mereka menyerukan kata-kata yang sama dan Abu Yazid memberikan jawaban yang sama. Begitulah seterusnya sehingga malaikat-malaikat dari langit yang ketujuh turun. Namun kepada mereka ini, pun Abu Yazid memberikan jawaban yang itu-itu juga, Maka malaikat-malaikat itu bertanya kepada Abu Yazid, “Kapankah engkau akan memiliki lidah untuk berdzikir kepada Allah?” ‘
“Apabila penduduk neraka telah tetap di neraka dan penduduk surga telah tetap di dalam surga dan hari Berbangkit telah lewat, maka Abu Yazid akan mengelilingi tahta Allah sambil berseru:
’Allah, Allah!’ ”.

ooo

Di dekat rumah Abu Yazid tinggal seorang penganut agama Zoroaster. Ia mempunyai seorang anak yang selalu menangis karena rumah mereka gelap tidak berlampu. Abu Yazid sendiri telah membawakan sebuah pelita untuk mereka. Si anak segera reda dari tangisnya. Mereka berkata:
“Karena cahaya Abu Yazid telah memasuki rumah ini, maka sangat disayangkan apabila kita tetap berada di dalam kegelapan”.
Mereka segera memeluk agama Islam.

ooo

Pada suatu malam Abu Yazid tidak memperoleh kekhusyukan dalam suatu shalatnya. Maka berkatalah ia kepada muridnya:
“Carilah jika ada barang-barang berharga di dalam rumah ini”.
Murid-muridnya mencari-cari lalu menemukan setengah tandan anggur. Kemudian Abu Yazid memerintahkan:
“Bawalah anggur-anggur itu dan berikan kepada orang-orang lain. Rumahku ini bukan toko buah-buahan”.
Setelah itu barulah Abu Yazid dapat melakukan shalat dengan khusyuk.

ooo

Pada suatu hari seseorang berkata kepada Abu Yazid: “Sewaktu ada orang yang meninggal dunia di Tabaristan, kulihat engkau di sana bersama Khidir as., dia merangkulkan tangannya ke lehermu sedang engkau menaruh tanganmu ke punggungnya. Ketika para pengantar pulang dari pemakaman, kulihat engkau terbang ke angkasa”.
“Ya, segala yang engkau katakan itu benar-benar terjadi”, jawab Abu Yazid.

ooo

Pada suatu hari seorang lelaki yang tidak mempercayai Abu Yazid datang berkunjung untuk mengujinya.
“Katakanlah kepadaku jawaban sesuatu masalah”, katanya kepada Abu Yazid.
Abu Yazid melihat betapa lelaki itu tidak mempercayainya di dalam hati. Maka berkatalah Abu Yazid: “Di atas sebuah gunung ada sebuah gua dan di dalam gua itu ada seorang sahabatku. Mintalah padanya untuk menjelaskan masalah itu kepadamu”.
Lelaki itu segera pergi ke gua yang dikatakan Abu Yazid. Tetapi yang dijumpainya di sana adalah seekor naga yang besar dan sangat menakutkan. Menyaksikan hal ini ia pun jatuh pingsan dan pakaiannya menjadi kotor. Begitu kembali siuman cepat-cepat ia meninggalkan tempat itu, tetapi tentunya tertinggal. Ia lalu kembali kepada Abu Yazid. Sambil bersujud di kaki Abu Yazid ia bertaubat lalu Abu Yazid berkata kepadanya:
“Maha Besar Allah! Engkau tidak berani mengambil sepatumu hanya karena takut kepada makhluk-Nya. Apabila engkau takut kepada Allah, bagaimanakah engkau berani mengambii “rahasia” yang engkau cari di dalam keingkaranmu?”

ooo

Pada suatu hari seorang lelaki datang dan menanyai Abu Yazid tentang hal rasa malu, Abu Yazid memberikan jawaban dan seketika itu juga orang tersebut berubah menjadi air.
Sesaat kemudian masuk pula seorang lelaki, setelah melihat genangan air itu ia bertanya kepada Abu Yazid: “Guru, apakah ini?”
Abu Yazid menjawab: “Seorang lelaki masuk lalu bertanya tentang rasa malu. Aku memberikan jawaban. Mendengar penjelasanku itu ia tidak dapat menahan dirinya dan karena sangat malu tubuhnya berubah menjadi air”.

ooo

Hatim Tuli berkata kepada murid·muridnya:
“Barangsiapa di antara kamu yang tidak memohon ampunan bagi penduduk neraka di hati Berbangkit nanti, ia bukan muridku”.
Perkataan Hatim ini disampaikan orang kepada Abu Yazid.
Kemudian Abu Yazid menambahkan:
“Barangsiapa yang berdiri di tebing neraka dan menangkap setiap orang yang dijerumuskan ke dalam neraka, kemudian mengantarkannya ke surga lalu kembali ke neraka sebagai pengganti mereka, maka ia adalah muridku.”

ooo

Suatu ketika pasukan kaum Muslimin berperang melawan Bizantium. Mereka hampir dapat dikalahkan musuh. Tiba-tiba mereka mendengar sebuah seruan: “Abu Yazid, tolonglahI”.
Seketika itu juga api menyembur dari arah Khurasan sehingga pasukan orang-orang kafir mati ketakutan dan pasukan kaum Muslimin dapat memenangkan pertempuran.

ooo

Abu Yazid ditanya orang: “Bagaimanakah engkau mencapai tingkat kesalehan yang seperti ini?”
“Pada suatu malam ketika aku masih kecil”, jawab Abu Yazid,
“Aku keluar dari kota Bustham. Bulan bersinar terang dan bumi tertidur tenang. Tiba-tiba kulihat suatu kehadiran. Di sisinya ada delapan belas ribu dunia yang tampaknya sebagai sebuah debu belaka. Hatiku bergetar kencang lalu hanyut dilanda gelombang ekstase yang dahsyat, Aku berseru, ’Ya Allah, sebuah istana yang sedemikian besarnya tapi sedemikian kosong. Hasil karya yang sedemikian agung tapi begitu sepi?!. Lalu terdengarlah olehku sebuah jawaban dari langit: ’Istana ini kosong bukan karena tak seorang pun memasukinya tetapi karena Kami tidak memperkenankan setiap
orang untuk memasukinya. Tak seorang manusia yang tak mencuci muka pun yang pantas menghuni istana ini’ “.

“Maka aku lalu bertekad untuk mendoakan semua manusia. Kemudian terpikirlah olehku bahwa yang berhak untuk menjadi penengah manusia adalah Muhammad saw. Oleh karena itu aku hanya memperhatikan tingkah lakuku sendiri. Kemudian terdengarlah suara yang menyeruku: ’Karena engkau berjaga-jaga’ untuk selalu bertingkah laku baik, maka Aku muliakan namamu sampai hari Berbangkit nanti dan ummat manusia akan menyebutmu raja
para mistik’ “.

ooo

Abu Yazid menyatakan: “Sewaktu pertama kali memasuki Rumah Suci, yang terlihat olehku hanya Rumah Suci itu. Ketika untuk kedua kalinya memasuki Rumah Suci itu, yang terlihat olehku adalah Pemilik Rumah Suci. Tetapi ketika untuk yang ketiga kalinya memasuki Rumah Suci, baik si Pemilik maupun Rumah Suci itu sendiri tidak terlihat olehku”.
Yang dimaksudkan Abu Yazid adalah: “Aku hilang di dalam Allah sehingga tak sesuatu pun yang terlihat olehku. Seandainya aku masih dapat melihat, maka yang terlihat olehku tentulah Allah”.
Kebenaran penafsiran yang seperti ini terbukti di dalam anekdot yang berikut ini.

Pada suatu malam seorang lelaki datang ke rumah Abu Yazid dan memanggilnya.
“Siapakah yang engkau cari?”, tanya Abu Yazid.
“Abu Yazid”, jawab lelaki itu.
“Orang malang! Aku sendiri telah mencari Abu Yazid selama tiga puluh tahun tetapi tiada jejak atau tanda-tanda mengenai dirinya yang dapat kutemui”, sahut Abu Yazid.
Ketika pernyataan Abu Yazid itu disampaikan kepada Dzun Nun, ia berkata:
“Ya Allah, limpahkanlah kasihmu kepada saudaraku Abu Yazid! Ia telah hilang beserta orang-orang yang telah hilang di dalam Allah”.

ooo

Sedemikian sempurna kekhusyukan Abu Yazid berbakti kepada Allah, sehingga setiap hari apabila ditegur oleh muridnya yang senantiasa menyertainya selama dua puluh tahun, ia akan bertanya:
“Anakku, siapakah namamu ?”
Suatu hari si murid berkata kepada Abu Yazid: “Guru, engkau memperolok-olokkanku. Telah dua puluh tahun aku mengabdi kepadamu tetapi setiap hari engkau menanyakan namaku!”
“Anakku”, Abu Yazid menjawab, “aku tidak memperolok-olokkanmu. Tetapi nama-Nya telah memenuhi hatiku dan telah menyisihkan nama-nama yang lain. Setiap kali aku mendengar sebuah nama yang lain, segeralah nama itu terlupakan oIehku”.

ooo

Abu Yazid berkata: “Allah Yang Maha Besar telah berkenan menerimaku di dalam dua ribu tingkatan, di dalam setiap tingkatan itu Dia menawarkan sebuah kerajaan kepadaku tetapi kutolak. Allah berkata kepadaku: ’Abu Yazid,’ apakah yang engkau inginkan?’, Aku menjawab: ’Aku ingin tidak mempunyai keinginan’ “.

ooo

”Engkau dapat berjalan di atas air!”, orang-orang berkata kepada Abu Yazid.
“Sepotong kayu pun dapat melakukan hal itu”, jawab Abu Yazid.
“Engkau dapat terbang di angkasa!” `
“Seekor burung pun dapat melakukan itu”.
“Engkau dapat pergi ke Ka’bah dalam satu malam!”
“Setiap orang sakti dapat melakukan perjalanan dari India ke Demavand dalam satu malam”.
“Jika demikian apakah yang harus dilakukan oleh manusia-manusia sejati?”, mereka bertanya kepada Abu Yazid.
Abu Yazid menjawab: “Seorang manusia sejati tidak akan menautkan hatinya kepada siapa pun kecuali kepada Allah”.

ooo

Abu Yazid berkata: “Dunia telah kutalak tiga. Kemudian seorang diri aku berjalan menuju Yang Sendiri. Aku berdiri di hadapan hadirat-Nya dan berseru: ’Ya Allah, kecuali Engkau tidak sesuatu pun yang kuinginkan. Apabila Engkau telah kuperoleh maka semuanya telah kuperoleh’ “.
“Setelah Allah mengetahui ketulusan hatiku itu maka karunia pertama yang diberikan-Nya kepadaku adalah membukakan selubung keakuan dari depan mataku”.

ooo

“Apa yang dimaksud dengan tahta Allah?”, seseorang bertanya kepada Abu Yazid.
“Tahta itu adalah aku”, jawab Abu Yazid.
“Apakah yang dimaksud dengan ganjalan kaki Allah?”
“Ganjalan kaki itu adalah aku”.
“Apakah yang dimaksud dengan luh (tanda peringatan) dan pena Allah?”
“Luh dan pena itu adalah aku”.
“Allah mempunyai harnba-hamba seperti Ibrahim, Musa dan Isa”.
“Mereka itu adalah aku”.
“Allah mempunyai hamba-hamba seperti Jibril, Mikail dan srail”.
“Mereka itu adalah aku”.
Lelaki yang bertanya itu terdiam, Kemudian Abu Yazid berkata: “Barangsiapa yang telah lebur di dalam Allah dan telah mengetahui realitas mengenai segala sesuatu yang ada, maka segala sesuatu baginya adalah Allah”.

ooo

Diriwayatkan bahwa Abu Yazid telah tujuh puluh kali diterima Allah ke hadirat-Nya. Setiap kali kembali dari perjumpaan dengan Allah itu Abu Yazid mengenakan sebuah ikat pinggang yang lantas diputuskannya pula. Menjelang akhir hayatnya Abu Yazid memasuki tempat shalat dan mengenakan sebuah ikat pinggang. Mantel dan tepinya yang terbuat dari bulu domba itu dikenakannya secara terbalik. Kemudian ia berkata kepada Allah:
“Ya Allah, aku tidak membanggakan disiplin diri yang telah kulaksanakan seumur hidupku, aku tidak membanggakan shalat yang telah kulakukan sepanjang malam. Aku tidak menyombongkan puasa yang telah kulakukan selama hidupku. Aku tidak menonjolkan telah berapa kali aku menamatkan al-Qur’an. Aku tidak akan mengatakan pengalaman-pengalaman spiritual yang telah kualami, doa-doa yang telah kupanjatkan dan betapa akrab hubungan antara Engkau dan aku. Engkau pun mengetahui bahwa aku tidak menonjolkan segala sesuatu yang telah kulakukan itu. Semua yang kukatakan ini bukanlah untuk membanggakan diri atau mengandalkannya. Semua ini kukatakan kepada-Mu karena aku malu atas segala perbuatanku itu.

Engkau telah melimpahkan rahmat-Mu sehingga aku dapat mengenal diriku sendiri. Semuanya tidak berarti, anggaplah tidak pernah terjadi. Aku adalah seorang Torkoman yang berusaha tujuh puluh tahun dengan rambut yang telah memutih di dalam kejahilan. Dari padang pasir aku datang sambil berseru-seru: ’Tangri! Tangri! Baru sekarang inilah aku dapat memutus ikat pinggang ini. Baru sekarang inilah aku dapat melangkah ke dalam lingkungan Islam. Baru sekarang inilah aku dapat menggerakkan lidah untuk mengucapkan syahadah. Segala sesuatu yang Engkau perbuat adalah tanpa sebab. Engkau tidak menerima ummat manusia karena kepatuhan mereka dan Engkau tidak akan menolak mereka hanya karena keingkaran mereka. Segala sesuatu yang kulakukan hanyalah debu. Kepada setiap perbuatanku yang tidak berkenan kepada-Mu limpahkanlah ampunan-Mu. Basuhlah debu keingkaran dari dalam diriku karena aku pun telah membasuh debu kelancangan karena mengaku telah mematuhi-Mu”.[]

Tinggalkan Jawapan

Masukkan butiran anda dibawah atau klik ikon untuk log masuk akaun:

WordPress.com Logo

Anda sedang menulis komen melalui akaun WordPress.com anda. Log Out /  Tukar )

Twitter picture

Anda sedang menulis komen melalui akaun Twitter anda. Log Out /  Tukar )

Facebook photo

Anda sedang menulis komen melalui akaun Facebook anda. Log Out /  Tukar )

Connecting to %s

Create your website with WordPress.com
Get started
%d bloggers like this: